Pemutaran Film Roots Seratus Tahun Walter Spies di Bali karya Michael Schindhelm di Museum Huruf Jember (31/8/2026). (dok.Rhizomata)
RealitasBali | SURABAYA – Film dokumenter fiksi Roots: Seratus Tahun Walter Spies menutup rangkaian Roots Tour de Java di Surabaya. Pemutaran film karya sutradara Michael Schindhelm ini menjadi ruang refleksi bagi seniman, akademisi, pemerhati budaya, hingga generasi muda mengenai hubungan antara seni, tradisi, pariwisata, dan perubahan sosial.
Rangkaian Roots Tour de Java sebelumnya menyambangi sejumlah kota di Pulau Jawa, mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, hingga Banyuwangi dan Jember, sebelum berakhir di Surabaya.
Program tersebut dirancang sebagai perjalanan napak tilas perjalanan Walter Spies sebelum menetap di Bali. Seniman Jerman kelahiran Moskow itu diketahui pertama kali tiba di Batavia pada 1923, kemudian melakukan perjalanan ke sejumlah kota, termasuk Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, sebelum akhirnya menetap di Bali.
Membaca Kembali Perubahan Bali
Melalui pendekatan dokumenter fiksi, Roots mengangkat sosok Walter Spies sekaligus perjalanan panjang Bali hingga berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia.
Film ini juga menyoroti dinamika yang menyertai perkembangan tersebut, termasuk tantangan masyarakat Bali dalam mempertahankan identitas seni dan budayanya di tengah arus globalisasi.
Michael Schindhelm melibatkan lebih dari 100 seniman Bali dari berbagai genre untuk menghadirkan kembali realitas tersebut melalui medium sinema.
Menurut Yudha Bantono, yang sebelumnya menjadi project director pameran Roots di ARMA Museum Ubud, rangkaian pemutaran film ini telah memberikan respons yang beragam di setiap kota.
Yudha kini mendapat mandat untuk membawa film Roots ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Sebelumnya, program serupa juga telah digelar di Australia Barat.
Ia mengatakan, respons penonton di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi, Jember, hingga Surabaya memiliki karakter masing-masing. Film tersebut bahkan menjadi bahan refleksi terhadap perkembangan sosial, budaya dan lingkungan di daerah tempat pemutaran.
Generasi Muda Diajak Melihat Akar Budaya
Di Surabaya, pemutaran berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk STKW Surabaya dan Zumen Art Studio Purimas. Sebelumnya, pada 29 Agustus hingga 6 September 2026, Roots juga diputar di Studio Serakit dan Museum Huruf Jember serta Gedung Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.
Pada sesi penutupan di Zumen Art Studio Purimas Surabaya, penonton didominasi generasi Z dan kelompok usia dewasa.
Founder Zumen Art Studio Surabaya, Venta, menilai pemutaran Roots sejalan dengan program pendidikan seni yang dikembangkan lembaganya.
Menurutnya, film tersebut tidak hanya berbicara mengenai sejarah Bali, tetapi juga dapat menjadi medium bagi generasi muda untuk memahami hubungan antara sejarah, seni, tradisi, budaya dan perubahan sosial.
“Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar mereka. Lebih penting lagi, penonton tidak hanya sekadar diajak untuk memahami sejarah dan apa yang terjadi di Pulau Bali saat ini, tetapi juga merenungkan lingkungan sosial mereka sendiri. Lebih penting lagi, film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan secara positif”, tambah Venta.
Mengingatkan Ancaman Hilangnya Tradisi
Respons serupa datang dari Agus Sukamto, akademisi STKW Surabaya sekaligus host pemutaran Roots di kampus tersebut. Pelukis yang akrab disapa Agus Koecing itu melihat keterkaitan antara persoalan yang diangkat dalam film dengan kondisi kesenian tradisional di Surabaya.
Ia menyoroti keberadaan Ludruk yang dahulu memiliki ratusan kelompok, namun kini semakin sulit ditemukan.
“Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Bila menengok film Roots melalui kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah gempuran arus global, ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk mengembangkannya”, tambah Agus.
Sementara itu, pelukis asal Jember, Ahmad Pandi, menilai Roots dapat menjadi pemantik bagi ekosistem seni di daerahnya untuk kembali menggali sejarah lokal.
Menurutnya, film tersebut mengajak pelaku kreatif melihat kembali perkembangan daerah sekaligus lebih kritis terhadap perubahan yang berpotensi menimbulkan degradasi sosial, budaya dan lingkungan.
Banyuwangi Perlu Peta Jalan Pariwisata Berkelanjutan
Ketua Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi, Hasan Basri, juga menilai Roots relevan dengan perkembangan pariwisata di Banyuwangi.
Pemerhati budaya Osing tersebut melihat kisah Walter Spies sebagai pengingat bahwa perkembangan seni, budaya dan pariwisata harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas lokal.
Ia juga menilai perkembangan pariwisata perlu diikuti dengan perencanaan jangka panjang agar tidak mengorbankan aspek budaya dan lingkungan.
Menurut Hasan, Banyuwangi membutuhkan blueprint yang jelas untuk mengembangkan seni, budaya dan pariwisata secara berkelanjutan.
Yudha Bantono mengatakan tingginya antusiasme masyarakat, khususnya dari kalangan penggiat sejarah, seni, budaya dan lingkungan, menunjukkan bahwa Roots masih memiliki ruang untuk dipertemukan dengan penonton yang lebih luas.
“Minat masyarakat khususnya penggiat sejarah, seni, budaya dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun diluar Pulau Jawa sangat tinggi, ke depan sedang dirancang program agar film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas”, tambah Yudha di sela-sela akhir penutupan Film Roots 6 September 2026 yang lalu di Zumen Art Purimas Surabaya. (rka)
