Muda mudi Desa Adat Panglipuran saat memberi sambutan dalam gelaran Pembukaan Penglipuran Village Festival (PVF) ke-13 Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Kamis (9/7/2026). (dok: Rahma)
BANGLI, Realitas Bali – Penglipuran Village Festival (PVF) ke-13 resmi dibuka di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Kamis (9/7/2026). Mengusung tema “Harmoni Bumi Penglipuran”, festival tahunan ini kembali menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus memperkuat posisi Penglipuran sebagai desa wisata yang mengedepankan pariwisata berbasis masyarakat, budaya, dan kelestarian lingkungan.
Suasana pembukaan festival berlangsung semarak. Seluruh tamu undangan telah berada di lokasi acara dan disambut dengan Peed Aya yang dibawakan oleh para siswa SMP, diiringi tabuh Beleganjur serta parade gebogan yang menampilkan kekayaan tradisi dan budaya masyarakat Penglipuran. Prosesi penyambutan tersebut menjadi pembuka rangkaian Penglipuran Village Festival ke-13 sekaligus menggambarkan kuatnya komitmen masyarakat dalam melestarikan warisan budaya Bali.
Gelaran ini juga dihadiri berbagai unsur pemerintah, pelaku pariwisata, tokoh adat, serta masyarakat. Mewakili Kementerian Pariwisata, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II, Dwi Marhen Yono, secara resmi membuka rangkaian kegiatan festival yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Dalam sambutannya, Dwi Marhen Yono menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Penglipuran dalam menjaga identitas budaya sekaligus mengembangkan pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, Penglipuran Village Festival berhasil masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebuah capaian yang diraih setelah melalui proses kurasi ketat dari ribuan event yang diajukan dari seluruh Indonesia.
“Dari sekitar 3.600 event yang masuk, Penglipuran Village Festival berhasil masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara. Penilaiannya tidak hanya melihat kualitas penyelenggaraan, tetapi juga kekuatan budaya serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan Penglipuran tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku industri, komunitas, hingga akademisi dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism).
Selain itu, Dwi juga menekankan pentingnya menjaga kekayaan kuliner lokal dan menghadirkan berbagai event berkualitas sebagai daya tarik wisata. Menurutnya, kekuatan budaya, kuliner, serta festival menjadi faktor penting yang mendorong wisatawan datang ke suatu daerah.
Ia pun berharap kolaborasi seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar Bali tetap menjadi magnet wisatawan dunia, termasuk dengan menghadirkan berbagai strategi promosi dan paket wisata pada musim kunjungan rendah.
Pariwisata Tumbuh Berkat Kekuatan Adat
Sementara itu, Klian Adat Desa Penglipuran, Wayan Budiarta, menegaskan bahwa Penglipuran tidak pernah dibangun semata-mata untuk menjadi objek wisata. Jauh sebelum dikenal wisatawan, masyarakat telah menjalankan filosofi Tri Hita Karana yang mengatur keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui tata ruang desa, arsitektur tradisional, pelestarian hutan bambu, hingga penerapan awig-awig yang tetap dijaga secara turun-temurun.
“Di Penglipuran, pariwisata hadir mengikuti nilai-nilai luhur yang kami miliki, bukan meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut,” kata Wayan.
Ia menjelaskan, titik balik perkembangan Penglipuran terjadi pada 1993 ketika Pemerintah Kabupaten Bangli menetapkan desa tersebut sebagai objek wisata. Namun menurutnya, daya tarik Penglipuran lahir dari budaya yang telah hidup di tengah masyarakat, bukan karena dibangun khusus untuk kepentingan pariwisata.
Sejak 2012, masyarakat juga mulai mengambil peran lebih besar sebagai pelaku utama pariwisata melalui pengelolaan homestay, atraksi budaya, hingga jasa pemandu wisata.
Raih Berbagai Pengakuan Dunia
Komitmen menjaga budaya dan lingkungan membawa Penglipuran meraih berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, masuk dalam Sustainable Destinations Top 100, dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia, hingga meraih predikat Best Tourism Villages dari UN Tourism pada 2023.
Menurut Wayan, berbagai penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus menjaga Penglipuran sebagai living museum, yakni desa yang tetap mempertahankan kehidupan adat dan tradisi di tengah perkembangan sektor pariwisata.
Angkat Budaya Lewat Konsep 4S
Penglipuran Village Festival tahun ini diselenggarakan berdasarkan keputusan paruman Desa Adat Penglipuran sebagai sarana promosi, pelestarian seni budaya, peningkatan kompetensi kepariwisataan, media rekreasi, sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat.
Festival mengusung konsep 4S, yakni something to do, something to see, something to buy, dan something to learn. Hari pertama diisi dengan parade budaya, pertunjukan seni tradisional, serta lomba gebogan yang diikuti desa-desa babanuan yang memiliki hubungan historis dengan Desa Penglipuran.
Penyelenggaraan festival didukung oleh Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Bangli, sektor perbankan, dan berbagai pihak swasta dengan total anggaran sekitar Rp600 juta.
Menutup sambutannya, Wayan Budiarta berharap tema “Harmoni Bumi Penglipuran” dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pelestarian adat, budaya, dan lingkungan.
“Kami ingin mengajak seluruh yang hadir untuk merasakan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur yang selama ini kami jaga. Semoga semangat ini juga dapat menginspirasi desa-desa wisata lainnya di Indonesia,” tutupnya.
