Panggung Ekspresi (Paksi) 2026 yang akan diselenggarakan pada 28-30 Agustus 2026. (dok: ruangkreasi)
DENPASAR, Realitas Bali – Komunitas Ruang Kreasi akan menggelar PAKSI (Panggung Kreasi) 2026, sebuah lomba operet tingkat Bali yang melibatkan pelajar SMP dan SMA. Kegiatan ini berlangsung pada 28 hingga 30 Agustus 2026 di Dharma Alaya Negara (DNA), Denpasar.
Ajang tersebut digelar untuk menghadirkan kembali ruang berekspresi bagi generasi muda yang menekuni seni pertunjukan operet. Komunitas Ruang Kreasi menilai semakin sedikit wadah yang secara khusus memberi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan di bidang tersebut.
Padahal, operet merupakan seni pertunjukan yang lahir dan berkembang di Bali, khususnya Kota Denpasar.
Ketua Komunitas Ruang Kreasi, Iko Putra Tara Tiyasa, A.Md.T., mengatakan operet dipilih karena lebih mudah dipelajari dibandingkan beberapa bentuk seni pertunjukan lainnya. Meski demikian, operet tetap menjadi dasar penting dalam pengembangan kemampuan seni pertunjukan.
“Format operet dipilih karena format ini lebih mudah dibandingkan seni pertunjukan lainnya, namun menjadi dasar dari sebuah seni pertunjukan. Serta format operet juga dapat dinikmati oleh semua sektor masyarakat dan segala usia,” ujar Iko.
Tokoh Dunia Jadi Sumber Inspirasi

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengangkat tema tokoh-tokoh dunia. Tema tersebut dipilih sebagai sarana edukasi bagi pelajar melalui kisah-kisah inspiratif yang mengandung nilai positif.
Selain itu, tokoh yang dipilih tidak dibatasi pada bidang tertentu. Namun, peserta harus mengangkat sosok yang memiliki nilai-nilai positif dan mudah diadaptasi ke dalam format operet.
Menurut Iko, tema tersebut diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk berani bermimpi dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
“Pesan bagi generasi muda adalah jangan pernah takut bermimpi besar, persiapkan diri dengan ilmu dan karakter, lalu gunakan potensimu untuk dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” imbuh Iko.
Antusiasme Peserta Lampaui Target
Sementara itu, Ketua Panitia PAKSI 2026, Ida Bagus Gde Santa Prasada, mengungkapkan antusiasme peserta melampaui target yang ditetapkan panitia.
Awalnya, panitia menargetkan 16 peserta yang terbagi dalam dua kategori, yakni delapan SMP dan delapan SMA. Namun, hingga penutupan pendaftaran jumlah peserta mencapai 17 tim. Jumlah tersebut terdiri atas delapan SMP dan sembilan SMA.
“Jujur, antusiasme para peserta di luar ekspektasi kami. Sejak pendaftaran dibuka, gelombang pendaftar langsung melonjak, dan yang paling membanggakan adalah melihat betapa seriusnya persiapan mereka,” jelas remaja yang kerap disapa Gus Santa ini.
Kategori SMP diikuti SMP Negeri 2 Denpasar (Teater Lingkar), SMP Negeri 4 Denpasar (Teater Loak), SMP Negeri 5 Denpasar (Teater Panca), SMP Negeri 6 Denpasar (Teater Dirga), SMP Negeri 7 Denpasar (Teater Klakson), SMP Negeri 8 Denpasar (Teater Nirwana), SMP Negeri 9 Denpasar (Teater Layar), dan SMP Negeri 12 Denpasar (Teater Angkasa).
Sementara kategori SMA diikuti SMA Negeri 4 Denpasar (Teater Blabar), SMA Negeri 6 Denpasar (Teater Kirana), SMA Negeri 8 Denpasar (Teater Wongkutus), SMA Negeri 12 Denpasar (Teater Rona), SMA Negeri 1 Kuta Utara (Teater Ombak), SMA Negeri 2 Kuta Utara (Teater Antara), SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar (Teater Lajose), SMA Muhammadiyah 1 Denpasar (Teater Enter), serta SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Teater Media Tepi).
Lebih lanjut, Gus Santa menilai semangat para peserta terlihat sejak pelaksanaan technical meeting.
“Saat technical meeting kemarin, ruang diskusi penuh dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan ide-ide kreatif yang luar biasa dari para peserta. Energi muda yang mereka bawa benar-benar menular, dan kami bisa merasakan bahwa Agustus nanti bukan sekadar kompetisi, melainkan akan menjadi perayaan seni pertunjukan yang sangat megah dan penuh gairah,” terang dia.
Penilaian Tak Hanya Berfokus pada Akting
Dalam kompetisi ini, peserta akan dinilai berdasarkan lima aspek utama. Aspek tersebut meliputi keaktoran, editing, penyajian cerita, koreografi, dan artistik.
Namun, peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akting. Kreativitas dalam menyusun naskah, mengolah musik, menata panggung, merancang kostum, serta menyajikan hiburan yang menarik juga menjadi bagian penting penilaian.
Komunitas Ruang Kreasi menilai seni operet memiliki peran penting dalam membentuk kreativitas dan karakter pelajar. Sebab, proses pertunjukan melibatkan kerja sama tim, tanggung jawab, kemampuan komunikasi, dan pengembangan ide kreatif.
Adaptasi Seni Pertunjukan di Era Digital

Di tengah dominasi media sosial dan konten digital, Komunitas Ruang Kreasi memilih pendekatan yang adaptif. Karena itu, platform digital dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan seni pertunjukan kepada generasi muda.
Berbagai strategi telah disiapkan. Mulai dari konten di balik layar, teaser kreatif, kolaborasi lintas disiplin, hingga konsep pertunjukan yang lebih interaktif.
“Komunitas Ruang Kreasi tidak perlu menjauhkan anak muda dari gawai mereka, melainkan membawa seni pertunjukan ke dalam gawai tersebut sebagai undangan, lalu menyambut mereka di dunia nyata dengan pengalaman pertunjukan yang imersif, relevan, dan interaktif,” paparnya.
Selain mengangkat tema global, panitia juga tetap menyisipkan unsur budaya Bali. Unsur tersebut akan hadir melalui dekorasi dan elemen visual yang terinspirasi dari budaya lokal.
Harapan Jangka Panjang Komunitas Ruang Kreasi
PAKSI direncanakan menjadi agenda tahunan sekaligus kegiatan utama Komunitas Ruang Kreasi dalam mengembangkan ekosistem seni pertunjukan di Bali.
Menurut panitia, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah piala yang diperebutkan. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu memberi pengalaman dan pembelajaran bagi peserta.
“Bagi kami selaku panitia, piala dan piagam hanyalah simbolis. Harapan terbesar kami adalah melihat para peserta pulang dengan versi terbaik dari diri mereka. Kami ingin lomba ini menjadi tempat mereka menemukan sudut pandang baru, mengevaluasi kemampuan, dan membangun jejaring dengan sesama talenta hebat. Setelah dari sini, baik yang membawa piala maupun tidak, kami berharap mereka tetap konsisten berkarya, berkolaborasi, dan menjadi inspirasi di lingkungan mereka masing-masing. Kompetisi akan berakhir, tapi perjalanan mereka baru saja dimulai,” tutut Gus Santa.
Ke depan, Komunitas Ruang Kreasi berharap lomba operet ini tidak hanya menjadi kompetisi tahunan. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan mampu melahirkan gerakan seni pertunjukan yang lebih besar dan berkelanjutan di Bali.
“Melalui lomba operet ini, Komunitas Ruang Kreasi bermimpi memantik gairah seni pertunjukan generasi muda hingga kelak mampu bertransformasi menjadi gerakan festival teater berskala besar yang inklusif, adaptif, dan berdampak,” tutupnya.
