Co-Founder Axean Festival, Satria Ramadhan (kiri), Piyapong M (kanan) dalam jumpa pers Axean Festival di Amplitude, Kerobokan, Rabu (26/8/2026). (dok: Rahma)
RealitasBali | BADUNG – Indonesia dinilai tidak kekurangan talenta musik. Persoalan justru terletak pada minimnya exposure dan akses musisi Indonesia ke industri musik internasional.
Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya Axean Festival 2026 di Bali. Festival showcase ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga mempertemukan musisi dengan pelaku industri dari berbagai negara.
Hal itu disampaikan dalam jumpa pers Axean Festival di Amplitude, Kerobokan, Rabu (26/8/2026).
Bukan Kekurangan Talenta
Co-Founder Axean Festival, Satria Ramadhan, mengatakan gagasan Axean Festival berangkat dari keresahan bahwa banyak musisi di Indonesia dan Asia Tenggara belum cukup dikenal di pasar global.
“Kita punya banyak musisi di Indonesia dan di Southeast Asia, tapi belum terekspos dengan baik di global, di dunia,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut terlihat ketika pelaku musik Asia Tenggara mengikuti forum industri internasional. Kawasan Asia Tenggara kerap belum menjadi perhatian utama dibanding Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
“Kita harus menunjukkan ke mereka kalau di negara-negara Southeast Asia juga punya banyak potensi, punya banyak talenta yang bagus,” kata Satria.
Ia menegaskan, persoalannya bukan kualitas musik, melainkan bagaimana informasi mengenai karya dan musisi tersebut bisa sampai kepada industri internasional.
“Informasinya belum ter-deliver dengan baik,” tegasnya.
220 Delegasi Industri Musik
Karena itu, Axean tidak menempatkan penonton sebagai satu-satunya sasaran. Festival ini justru mengundang para delegasi dari industri musik, seperti promotor festival, label, booking agent, dan publisher.
Tahun ini, jumlah delegasi mencapai sekitar 220 orang, meningkat dari sekitar 170 delegasi pada penyelenggaraan sebelumnya.
Mereka datang dari berbagai negara di Asia hingga kawasan lain seperti Australia, Kanada, Inggris, Prancis, dan Meksiko.
Kehadiran mereka diharapkan membuka peluang bagi musisi Indonesia untuk mendapatkan akses baru, termasuk kemungkinan tampil di luar negeri atau bekerja sama dengan label maupun promotor internasional.
“Harapannya mereka nanti setelah datang ke Axean, mereka punya ide untuk, ‘Saya mau sign band ini’ atau ‘Saya mau mengundang mereka untuk main ke acara saya’,” papar Satria.
Menurutnya, tujuan akhirnya adalah memperluas jaringan agar musik dari kawasan ini tidak berhenti berputar di pasar domestik.
“Tujuannya adalah untuk memperluas jaringan dan untuk membuat band-band kita ini bisa lebih didengar di luar ranah Southeast Asia atau bahkan Asia,” lanjutnya.
Sekitar 18 Band Indonesia Tampil
Axean Festival 2026 menghadirkan total 49 artis dari berbagai negara. Sekitar 18 band berasal dari Indonesia.
Sejumlah nama yang disebut antara lain D’Masiv, Ndarboy Genk, Babon dari Yogyakarta, dan Goven dari Ambon, dan masih banyak lagi.
Penyelenggara juga berupaya agar representasi Indonesia tidak hanya berasal dari Jakarta.
“Sebisanya kita mengumpulkan band-band yang gak hanya dari ibu kota aja, tapi dari seluruh Indonesia,” ungkap Satria.
Menurut penyelenggara, popularitas juga bukan menjadi syarat utama untuk masuk dalam line-up. Kurasi lebih mempertimbangkan kualitas musik dan kesiapan seorang artis untuk diperkenalkan ke pasar internasional.
“So, our main concern for selecting artists is number one, are they export ready?” ujar Piyapong M, salah satu narasumber asal Thailand.
Bahasa pun disebut bukan penghalang. Musisi yang menggunakan bahasa lokal tetap berpeluang menembus pasar luar negeri selama memiliki karya yang kuat.
Musisi Bali Dapat Jalur Khusus
Khusus Bali, Axean memberikan perhatian melalui open call Bali Band yang hanya dibuka bagi musisi lokal.
“Open call ini kita khususkan, kita buka hanya untuk musisi Bali. Kita enggak buka open call di kota-kota lain,” jelas Satria.
Langkah tersebut dilakukan karena penyelenggara ingin memberikan ruang lebih besar bagi musisi Bali untuk mendapatkan exposure melalui jaringan Axean.
Pada tahun sebelumnya, Morkit Monkey terpilih melalui program tersebut. Sementara tahun ini, Fero Strikes menjadi pemenangnya.
Keterlibatan masyarakat lokal juga diperluas. Selain musisi, sejumlah kru teknis dan vendor Bali turut dilibatkan dalam penyelenggaraan.
Tidak Dibayar, tetapi Mendapat Akses
Berbeda dari festival komersial, Axean menerapkan konsep showcase. Para musisi yang tampil tidak mendapatkan bayaran dari penyelenggara.
“Honestly, we don’t pay the bands, we don’t pay the artists,” ujar Piyapong yang kerap disapa Pay.
Anggaran justru banyak diarahkan untuk mendatangkan para delegasi industri, termasuk tiket perjalanan dan akomodasi mereka.
“Biaya yang kita keluarkan itu lebih banyak untuk mendatangkan delegates tadi yang 200 orang itu karena kita harus membayar tiket pesawatnya mereka, terus akomodasinya mereka,” jelas Satria.
Baik musisi besar maupun pendatang baru disebut mendapatkan perlakuan yang sama, termasuk durasi penampilan sekitar 30 menit.
“Enggak ada treatment khusus buat band besar atau band baru,” tegasnya.
Konsep tersebut membuat Axean lebih berfungsi sebagai ruang showcase dan networking daripada sekadar panggung pertunjukan.
Bagi Musisi, Networking Jadi Nilai Utama
Pengalaman tersebut dirasakan Bagus “Elel” dari Milledenials, salah satu musisi Bali yang pernah tampil di Axean.
Menurutnya, keuntungan terbesar bukan hanya kesempatan tampil, tetapi pertemuan dengan delegasi festival dan label dari berbagai negara.
“Serunya itu kita dapat koneksi-koneksi baru,” jelasnya.
Ia menilai koneksi tersebut membuka kemungkinan musik lokal diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
“Jadi kemungkinan besar untuk memperkenalkan musik kita tuh lebih luas,” ujarnya.
Membawa Musik Indonesia Keluar dari Pasar Lokal
Axean Festival 2026 menjadi tahun ketiga penyelenggaraan di Bali dan tahun ketujuh secara keseluruhan.
Selain menghadirkan 49 artis, festival juga memiliki program Songwriting Camp yang mempertemukan produser, singer-songwriter, dan penulis lagu untuk menghasilkan karya kolaboratif.
Namun, inti keberadaan Axean tetap pada upaya mempertemukan talenta dengan akses industri.
Bagi musisi Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar memiliki karya bagus atau tidak. Tantangan berikutnya adalah memastikan karya tersebut didengar oleh orang yang tepat di luar negeri.
“Kita ingin dunia melihat skenario musik di Southeast Asia atau di Asia Tenggara punya banyak potensi,” kata Satria.
Bagi Axean Festival, Bali menjadi salah satu pintu untuk membawa musik Indonesia keluar dari batas pasar lokal menuju panggung yang lebih luas. (rka)
