Salah satu penampilan peserta PAKSI 2026. (Dok. RealitasBali)
RealitasBali | DENPASAR – Panggung Kreasi Seni Indonesia (PAKSI) 2026 kembali menjadi ruang bagi pelajar Bali untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengembangkan kecintaan terhadap seni teater.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, ajang lomba operet yang digelar Komunitas Ruang Kreasi ini melibatkan 17 sekolah tingkat SMP dan SMA. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 28-30 Agustus 2026, di Dharma Negara Alaya (DNA), Lumintang, Denpasar.
Tahun ini, delapan peserta berasal dari jenjang SMP dan sembilan lainnya dari jenjang SMA. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang hanya diikuti 12 peserta.
Menariknya, cerita yang dibawakan para peserta mengangkat sosok-sosok terkenal dunia. Mulai dari ilmuwan Albert Einstein dan Charles Darwin hingga tokoh emansipasi perempuan Indonesia, R.A. Kartini.
Ketua Panitia PAKSI 2026, Ida Bagus Gde Santa Prasada, mengatakan peningkatan jumlah peserta menjadi salah satu perkembangan paling terlihat dalam penyelenggaraan tahun ini.
“Yang bisa membedakan PAKSI tahun ini dengan tahun sebelumnya mungkin dari peserta yang jauh lebih ramai. Dari 12 sekarang sudah mencapai 17 peserta,” ujar Gus Santa.
Tak hanya jumlah peserta yang bertambah, panitia juga memperbanyak piala dan trofi yang diperebutkan. Langkah tersebut diharapkan membuat kesempatan peserta untuk meraih penghargaan semakin terbuka.
“Jumlah piala, jumlah trofi yang kita berikan kepada teman-teman peserta itu sudah jauh lebih banyak. Jadi teman-teman punya kesempatan lebih besar untuk bisa menang di PAKSI 2026 ini,” katanya.
PAKSI 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para pelajar dan komunitas teater. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk ikut tumbuh bersama event tersebut.
Sedikitnya terdapat enam stan F&B dan dua stan non-F&B yang ikut meramaikan area kegiatan.
Panitia juga menghadirkan sejumlah hiburan yang dianggap dekat dengan minat anak muda, salah satunya layanan tarot.
Kehadiran tarot bahkan disebut cukup menarik perhatian pengunjung dan berpeluang kembali dihadirkan dalam penyelenggaraan berikutnya.
“Karena melihat tarot tahun ini cukup menarik untuk anak-anak muda, jadi mungkin tahun depan kita usahakan ada lagi. Selain nonton teater, mereka bisa coba mencari ramalan hidupnya ke depan,” ujar Gus Santa.
Dari sisi jumlah penonton, antusiasme masyarakat terhadap PAKSI 2026 juga terbilang tinggi. Panitia memperkirakan jumlah pengunjung mencapai sekitar 800 hingga 1.200 orang setiap harinya.
Sementara itu, jumlah pemain dari 17 peserta mencapai ratusan orang. Setiap peserta rata-rata melibatkan sekitar 35 hingga 40 orang dalam produksi pertunjukan.
Besarnya antusiasme tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi panitia. Salah satu evaluasi yang muncul tahun ini adalah kepadatan arus penonton selama kegiatan berlangsung.
“Evaluasi untuk tahun ini ada di flow penonton yang cukup padat karena ramainya peminat dari teater,” ungkap Gus Santa, alumni SMA Negeri 7 Denpasar.
Untuk penyelenggaraan mendatang, Ruang Kreasi berencana memperkuat sisi visual dan atmosfer acara dengan menambah dekorasi. Konsep malam penghargaan juga tengah dipertimbangkan untuk dipisahkan dari hari pelaksanaan lomba.
“Nanti kita mungkin ada menambah hari untuk nominasi. Awarding night bakal kita pisah dari hari-hari lombanya karena jadinya sangat terburu-buru gara-gara kendala waktu dari pihak venue,” sambungnya.
Perluas Peserta ke Seluruh Bali
Di sisi lain, Ketua Komunitas Ruang Kreasi, Iko Putra Tara Tiyasa, mengatakan pihaknya terus berupaya memperluas jangkauan PAKSI agar tidak hanya diikuti sekolah dari Denpasar dan Badung.
Undangan telah dikirimkan ke sejumlah sekolah di berbagai kabupaten/kota di Bali yang diketahui memiliki ekstrakurikuler teater. Di antaranya sekolah-sekolah di Bangli, Jembrana, Klungkung hingga Karangasem.
Meski demikian, keterlibatan sekolah dari luar Denpasar dan Badung pada tahun ini belum maksimal.
Menurut Iko, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan persoalan birokrasi, melainkan karena padatnya agenda teater yang dimiliki masing-masing sekolah.
“Sebenarnya bukan terkait birokrasi ataupun waktu, lebih karena di tahun ini lumayan padat jadwal teater di Badung,” jelasnya.
Sejumlah sekolah diketahui memiliki agenda kompetisi teater lain yang waktunya berdekatan dengan PAKSI 2026. Kondisi tersebut membuat sekolah harus membagi fokus dengan berbagai kegiatan internal maupun kompetisi lainnya.
Karena itu, perluasan peserta menjadi salah satu target utama Ruang Kreasi untuk penyelenggaraan tahun depan.
“Untuk optimis atau enggak, mungkin optimis. Tapi semoga bisa mencapai Janya dulu sebelum tambahan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Mengejar Juara
Lebih dari sekadar kompetisi, Ruang Kreasi ingin menjadikan PAKSI sebagai ruang belajar bagi generasi muda.
Proses sejak mempersiapkan pertunjukan, membangun karakter, berlatih, bekerja dalam tim hingga tampil di atas panggung dinilai sama pentingnya dengan hasil akhir kompetisi.
Iko berharap keberadaan PAKSI dapat membuat seni teater semakin dekat dengan generasi muda, sekaligus membuka ruang pembelajaran yang berkelanjutan.
“Harapan saya dan teman-teman untuk ke depannya terkait acara kami ini adalah lebih bermanfaat lagi untuk beberapa elemen, baik itu dari tingkat remaja kembali ke tingkat anak-anak. Salah satunya dengan cara kita bisa menghibur mereka,” tuturnya.
Ia juga berharap minat anak muda terhadap teater terus tumbuh.
“Dengan adanya lomba ini kami juga berharap bahwa mulai naiknya minat anak-anak muda di bidang teater itu semakin meningkat juga,” katanya.
Menurutnya, teater tidak berhenti pada persoalan menang atau kalah. Justru proses yang dilalui para peserta menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan dan pengalaman mereka.
“Ke depannya sebagai ajang untuk belajar, bukan hanya sebagai kompetisi saja, tapi untuk belajar dari awal hingga bisa mencapai satu titik yang kami inginkan untuk teman-teman,” ujarnya.
Pemerintah Mulai Melirik Teater
Perkembangan ekosistem teater di Bali juga disebut mulai mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah.
Salah satu bentuk dukungan datang melalui BIKRAF yang membantu pelaksanaan PAKSI 2026, termasuk dalam pemanfaatan Gedung Taksu sebagai salah satu fasilitas pendukung kegiatan.
Iko menilai dukungan tersebut menunjukkan mulai terbukanya ruang kolaborasi antara pemerintah dengan komunitas seni.
“Dukungan untuk teater sendiri dari pemerintah sudah lumayan cukup besar,” katanya.
Menurut dia, pemerintah mulai melihat bahwa komunitas teater bukan sekadar kelompok seni, tetapi memiliki basis massa dan terus bergerak di tengah masyarakat.
“Pemerintah ini sudah melek. Kita tahu bahwa teater ini adalah sebuah komunitas ataupun pencinta yang memang punya massa dan memang sedang bergerak. Jadi pemerintah akan mulai perlahan sebenarnya untuk membantu, men-support semua rekan-rekan di teater,” pungkasnya. (idr)
