Alexandro Rolandi, Kader PMKRI. (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Menjelang pelaksanaan Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI yang dijadwalkan berlangsung di Ruteng pada Juli 2026, sejumlah kader mulai mendorong agar forum tertinggi organisasi tersebut tidak hanya berfokus pada pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap arah dan masa depan organisasi.
Menurut mereka, tantangan yang dihadapi PMKRI saat ini semakin kompleks seiring perubahan sosial, politik, dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Karena itu, Kongres dan MPA dinilai perlu menghasilkan agenda strategis yang mampu memperkuat kaderisasi, konsolidasi nasional, serta relevansi organisasi di tengah dinamika zaman.
Salah satu kader PMKRI yang menyampaikan pandangan tersebut adalah Alexandro Rolandi. Ia menilai fokus utama forum nasional seharusnya tidak semata-mata tertuju pada figur yang akan memimpin organisasi. Namun pada arah perjuangan yang hendak dibangun setelah kongres berakhir.
“Menurut saya, yang paling penting bukan siapa yang akan terpilih nanti, melainkan PMKRI ingin menjadi organisasi seperti apa setelah Kongres dan MPA. Kalau kita mampu menjawab pertanyaan itu, maka soal figur akan mengikuti dengan sendirinya,” ujar Roland.
Kaderisasi Jadi Fondasi Utama
Roland menegaskan bahwa PMKRI sejak awal berdiri merupakan organisasi kader. Karena itu, penguatan kaderisasi harus menjadi perhatian utama dalam setiap proses pengambilan kebijakan organisasi.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya dapat diukur dari banyaknya program kerja yang dijalankan. Tetapi dari kualitas proses pembentukan kader serta tingkat kepercayaan anggota terhadap organisasi.
“PMKRI lahir sebagai organisasi kader. Karena itu, ukuran keberhasilan kita tidak hanya dilihat dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi juga dari seberapa kuat proses pembentukan kader, seberapa hidup cabang-cabang, dan seberapa besar kepercayaan kader terhadap organisasinya sendiri,” katanya.
Ia menilai kaderisasi yang kuat akan menjadi modal penting bagi PMKRI untuk terus melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjawab berbagai persoalan Gereja, bangsa, dan masyarakat.
Perkuat Konsolidasi Nasional
Selain kaderisasi, Roland juga menyoroti pentingnya konsolidasi nasional di tengah keberagaman kondisi dan tantangan yang dihadapi cabang-cabang PMKRI di berbagai daerah.
Menurutnya, Kongres dan MPA harus dimanfaatkan sebagai momentum mempererat hubungan antarkader sekaligus memperkuat semangat persaudaraan dalam organisasi.
“Kita memiliki cabang yang tersebar dari berbagai daerah dengan pengalaman dan tantangan yang berbeda-beda. Kongres dan MPA harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara seluruh kader PMKRI,” ujarnya.
Roland juga mengingatkan bahwa dinamika menjelang forum nasional merupakan hal yang wajar dalam organisasi kader. Perbedaan pandangan maupun pilihan politik organisasi tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.
“Perbedaan pandangan dan pilihan merupakan bagian dari demokrasi organisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh proses itu tetap dijalankan dengan semangat persaudaraan. Serta tanggung jawab terhadap masa depan PMKRI,” tegasnya.
Sejumlah kader berharap Kongres dan MPA PMKRI di Ruteng nantinya tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru. Mereka berharap lahir pula arah strategis yang lebih jelas dalam menjawab tantangan organisasi ke depan.
Mereka menilai forum tertinggi PMKRI harus menjadi momentum pembaruan organisasi. Sehingga PMKRI tetap relevan dan mampu berkontribusi bagi Gereja, bangsa, serta generasi muda Indonesia di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.
