Alexandro Rolandi, Kader PMKRI. (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Menjelang pelaksanaan Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI di Ruteng, wacana di kalangan kader mulai berkembang tidak hanya mengenai kepemimpinan organisasi, tetapi juga tentang relevansi PMKRI dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.
Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), perubahan lanskap demokrasi, krisis lingkungan, hingga tantangan kebangsaan dinilai menghadirkan situasi baru yang membutuhkan respons lebih adaptif dari organisasi kader.
Sejumlah kader menilai forum tertinggi PMKRI tersebut harus menjadi momentum untuk merumuskan kembali arah gerak organisasi. Agar nantinya tetap mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi perjuangannya.
Salah satu kader yang menyampaikan pandangan tersebut adalah Alexandro Rolandi. Menurutnya, Kongres dan MPA tidak cukup hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga harus melahirkan gagasan dan strategi baru dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Generasi pendiri PMKRI menjawab tantangan zamannya dengan keberanian berpikir dan keberanian bertindak. Generasi hari ini juga dituntut melakukan hal yang sama terhadap tantangan yang berbeda,” ujarnya pemuda yang kerap disapa Roland ini.
Adaptif Tanpa Kehilangan Nilai Dasar
Roland menilai PMKRI perlu terus memperkuat tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khas organisasi. Sekaligus menjaga kedekatan dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, organisasi kader tidak boleh terjebak dalam pola pikir lama ketika lingkungan sosial, ekonomi, dan teknologi terus mengalami perubahan.
“Organisasi kader tidak boleh kehilangan kemampuan membaca perubahan. Kita harus tetap berpijak pada nilai yang sama, tetapi mampu menjawab persoalan yang terus berubah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca perkembangan zaman menjadi salah satu syarat penting. Agar PMKRI tetap relevan dalam kehidupan masyarakat dan mampu berkontribusi secara nyata terhadap berbagai persoalan bangsa.
Kader Masa Depan Harus Siap Jadi Solusi
Roland juga menyoroti pentingnya pembaruan orientasi kaderisasi. Menurutnya, kaderisasi masa depan tidak cukup hanya menghasilkan kader yang aktif berorganisasi, tetapi juga harus mampu membentuk kader yang memahami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, dan dinamika sosial.
Dengan bekal tersebut, kader PMKRI diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam memberikan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
“Kader PMKRI harus siap menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa. Karena itu, penguatan kapasitas intelektual dan kepemimpinan menjadi agenda yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Menjelang Kongres dan MPA di Ruteng, sejumlah kader berharap forum nasional tersebut dapat menghasilkan arah strategis yang lebih kuat bagi organisasi. Tidak hanya dalam aspek kepemimpinan, tetapi juga dalam memperkuat posisi PMKRI sebagai organisasi kader yang mampu menjawab tantangan Gereja, bangsa, dan generasi muda Indonesia di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
