Diskusi atau Musyawarah Keluarga Besar Alor di Bali yang digelar pada Minggu (31/5/2026). (dok: rahma)
REALITASBALI | Denpasar – Semangat persatuan mewarnai kegiatan Diskusi atau Musyawarah Keluarga Besar Alor di Bali yang digelar pada Minggu (31/5/2026). Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk merumuskan wadah bersama bagi seluruh warga Alor yang berada di Pulau Dewata dengan mengusung semangat “Menuju Alor Bersatu” dan semboyan “Tara Miti Tomi Nuku.”
Kegiatan ini mempertemukan berbagai komunitas, paguyuban, dan kelompok keluarga asal Alor yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Melalui forum tersebut, para peserta bersepakat membangun komunikasi yang lebih kuat guna mewujudkan satu rumah besar yang dapat menaungi seluruh warga Alor di Bali.
Salah satu tokoh yang hadir, Musa Letding, menilai pertemuan tersebut sebagai awal yang baik untuk menyatukan berbagai kelompok masyarakat Alor yang selama ini terpisah dalam berbagai organisasi dan komunitas.
“Hanya saja bagaimana untuk menyatukan ini di dalam satu wadah yang besar sehingga seperti yang tadi sudah disampaikan bahwa ketika wadah yang besar ini sudah ada, maka dia bisa mewadahi yang kecil-kecil di bawah, gitu. Itu yang menjadi tujuan utama,” ujarnya.
Menurutnya, gagasan Alor Bersatu dapat menjadi pemantik untuk membangun kebersamaan yang lebih kuat di masa depan. Ia menekankan bahwa proses perumusan organisasi harus dilakukan dengan bijaksana tanpa mengabaikan jasa para pendahulu yang telah lebih dahulu membangun organisasi-organisasi Alor di Bali.
Ia berharap hasil diskusi tidak berhenti pada pertemuan perdana saja, melainkan segera ditindaklanjuti dalam forum berikutnya.
“Lebih cepat lebih bagus untuk merumuskan sesuatu yang baik, ya. Itu harus. Sehingga apa yang kita duduk bicarakan hari ini, jangan terlalu berlarut-larut lah,” katanya.
Bangun Satu Rumah untuk Semua Warga Alor

Ketua Kampung Alor di Bali, Musa Kami Liubana, mengatakan bahwa selama ini Kampung Alor berupaya menjadi ruang bersama bagi seluruh warga Alor tanpa membedakan latar belakang kelompok maupun agama.
Ia menilai persatuan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat perantauan, terutama ketika menghadapi berbagai persoalan sosial maupun kebutuhan kemanusiaan.
“Jadi kami punya visi dan misi bagaimana caranya Alor yang selama ini jalan sendiri-sendiri kalau bisa ke depan tuh bersama. Kita di satu rumah, satu Alor,” ujarnya.
Menurut Musa, salah satu capaian penting dari musyawarah tersebut adalah berhasil mempertemukan berbagai elemen masyarakat Alor yang selama ini sulit duduk bersama dalam satu forum.
“Yang kita dapat ini pertama itu luar biasa karena selama ini susah sekali kita mempertemukan orang Alor dalam bentuk apa pun, karena semua punya ego sektoral yang tinggi. Tapi hari ini, puji Tuhan semua bisa datang, cukup banyak,” katanya.
Ia menambahkan, setelah pertemuan ini akan dilakukan pembahasan lanjutan mengenai struktur organisasi hingga penentuan nama wadah yang nantinya akan disepakati bersama secara demokratis.
Organisasi yang Ada Tetap Berjalan
Senada dengan itu, Ketua Ikatan Keluarga Alor Panthar (IKAP), Sinsigus Wabang, menegaskan bahwa pembentukan wadah bersama bukan untuk menghapus organisasi atau komunitas yang sudah ada sebelumnya.
Menurutnya, konsep yang dibangun adalah menghadirkan satu rumah besar yang menjadi titik temu seluruh warga Alor di Bali, sementara organisasi-organisasi yang telah berjalan tetap dapat menjalankan aktivitasnya masing-masing.
“Jadi intinya adalah dengan duduk bersama seperti untuk menuju Alor Bersatu ini bukan berarti yang sekarang sudah berjalan ini mau ditiadakan, tidak,” jelasnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti rumah-rumah kecil yang tetap berdiri, namun memiliki satu rumah besar sebagai tempat berkumpul ketika menghadapi persoalan bersama.
“Ketika ada suka dan duka, di situlah kita duduk bersama untuk bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan hal itu. Kan kalau sendiri-sendiri kan tidak mungkin, kan? Tapi ketika kita bersama-sama, maka walaupun pekerjaan berat, kita bisa lakukan,” ujarnya.
Melalui musyawarah tersebut, para tokoh dan perwakilan komunitas berharap proses pembentukan wadah bersama dapat segera dirumuskan dalam waktu dekat. Harapannya, seluruh warga Alor di Bali memiliki satu rumah besar yang mampu memperkuat solidaritas, mempererat persaudaraan, serta menjadi representasi masyarakat Alor yang bersatu di tanah rantau.
