Pemeriksaan mata dalam rangka peringatan Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 pada 8–14 Maret oleh JEC Group melalui JEC Bali @ Denpasar. (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Glaukoma masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan mata di Indonesia. Penyakit saraf mata yang bersifat progresif ini bahkan dikenal sebagai “silent thief of sight” atau pencuri penglihatan karena kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal.
Memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 pada 8–14 Maret, JEC Group melalui JEC Bali @ Denpasar mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap bahaya glaukoma melalui deteksi dini.
Kampanye ini mengusung tema global “Uniting for a Glaucoma-Free World”, yang menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin. Karena kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.
Risiko Meningkat Seiring Pertambahan Usia
Data menunjukkan prevalensi glaukoma di Indonesia mencapai sekitar 0,46 persen, atau setara 4–5 kasus per 1.000 penduduk. Di Bali, risiko ini diperkirakan meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup serta populasi lansia.
Berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB), sekitar 18.016 orang di Bali diperkirakan mengalami kebutaan. Dimana glaukoma menjadi salah satu faktor penyebab yang signifikan.
Ketua Glaukoma Service JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), menjelaskan bahwa banyak penderita baru menyadari penyakit ini ketika kerusakan penglihatan sudah berada pada tahap berat.
“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala. Masyarakat sering baru menyadari saat kerusakan penglihatan sudah berat. Karena itu, skrining berkala sangat krusial,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada kasus tertentu, penyakit ini bahkan dapat terjadi pada bayi yang dikenal sebagai glaukoma kongenital, dengan rasio sekitar 1 kasus dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran.
Pemeriksaan dan Teknologi Penanganan
Dokter Mata di JEC Bali @ Denpasar, Dr. Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi, M.Biomed, SpM, menegaskan bahwa diagnosis dini menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut.
Di fasilitas tersebut, pasien dapat menjalani berbagai pemeriksaan komprehensif, seperti tonometri untuk mengukur tekanan bola mata, Optical Coherence Tomography (OCT) guna melihat struktur saraf optik, serta pemeriksaan lapang pandang.
Untuk penanganannya, tersedia beberapa pilihan terapi modern yang disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari pengobatan menggunakan obat tetes atau obat oral, terapi laser seperti Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang bersifat minimal invasif. Hingga tindakan operasi seperti trabeculectomy, maupun teknik bedah modern Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) yang memungkinkan proses pemulihan lebih cepat.
Skrining Gratis bagi Masyarakat
Sebagai bagian dari kampanye Pekan Glaukoma Sedunia, JEC Bali @ Denpasar juga mengadakan program Free Glaucoma Screening bagi masyarakat. Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan tekanan bola mata secara gratis menggunakan non-contact tonometry, serta layanan pemeriksaan EyeCheck.
Program ini juga sejalan dengan perkembangan Bali sebagai destinasi wisata kesehatan, khususnya dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur.
Tingginya mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara membuat akses terhadap layanan kesehatan mata yang berkualitas menjadi semakin penting.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat lebih peduli untuk memeriksakan mata secara rutin. Jangan tunggu sampai penglihatan kabur. Karena deteksi dini adalah satu-satunya cara mencegah kebutaan permanen akibat glaukoma,” tutup Dr. Intan.
