Pemutaran film dokumenter fiksi ROOTS: One Hundred Years of Walter Spies in Bali di Gruham Coffee & Bistro, Minggu (3/5/2026). (dok: istimewa)
REALITASBALI | Jakarta – Pemutaran film dokumenter fiksi ROOTS: One Hundred Years of Walter Spies in Bali menjadi pembuka rangkaian diskusi tentang warisan seni dan pariwisata Bali, yang digelar di Gruham Coffee & Bistro, Minggu (3/5/2026). Agenda ini tidak sekadar pemutaran film, tetapi juga upaya membaca ulang pengaruh panjang sosok Walter Spies terhadap Bali.
Film garapan Michael Schindhelm ini mengangkat perjalanan Walter Spies sejak tiba di Bali pada 1925 hingga jejak kompleks yang ia tinggalkan hingga kini. Narasinya menggabungkan pendekatan dokumenter dan fiksi, dengan arsip, rekonstruksi. Ada juga wawancara lintas perspektif, mulai dari akademisi, seniman, hingga pegiat lingkungan.
Membongkar Warisan yang Tidak Sederhana
Film berdurasi hampir dua jam ini tidak hanya menampilkan sisi artistik Spies, seperti kontribusinya pada tari dan estetika visual Bal. Tapi juga membuka lapisan yang lebih sensitif, seperti relasi kuasa budaya, bayang-bayang kolonialisme, hingga dampak pariwisata yang terus berkembang.
Di titik ini, film ROOTS sebenarnya tidak netral. Ia mengajak penonton mempertanyakan ulang: apakah warisan Spies murni kontribusi budaya, atau justru bagian dari konstruksi Bali sebagai “produk” global?
Dari Pemutaran ke Diskursus
Kegiatan ini digelar bersama IWS Indonesia dan ABAS, serta dilengkapi program interaktif seperti melukis dengan cat air dan sesi diskusi. Penulis dan kurator seni Yudha Bantono menegaskan bahwa pemutaran di Jakarta hanyalah awal.
Ia menyebut rangkaian pemutaran akan berlanjut ke sejumlah kota, termasuk Bandung, Yogyakarta, dan Magelang pada Juni mendatang. Bahkan, diskusi lanjutan akan menghadirkan seniman Bali seperti Gus Dark dan Made Bayak yang juga terlibat dalam film tersebut.
“Pemutaran ini bukan hanya tontonan, tetapi pemicu percakapan kritis tentang bagaimana sejarah seni dibaca ulang, diperdebatkan, dan digaungkan dalam praktik kolaboratif kontemporer,” ujar Yudha.
Refleksi untuk Seniman dan Bali Hari Ini
Perwakilan ABAS, Agus Budiyanto, menilai film ini memberi perspektif baru tentang sosok Spies sebagai seniman multidisiplin sekaligus membuka kesadaran bagi pelaku seni masa kini.
Namun poin pentingnya bukan di nostalgia, melainkan refleksi. ROOTS secara implisit menantang seniman dan publik, apakah Bali hari ini masih memegang kendali atas narasi budayanya sendiri, atau masih berada dalam bayang-bayang konstruksi lama?
