Suasana diskusi dalam gelaran AI & Cybersecurity Executive Forum (AICX) 2026, sebagai rangkaian Bali Tech Week di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026). (dok: redaksi)
RealitasBali | DENPASAR – Chief Executive Officer (CEO) Media Group, Mohammad Mirdal Akib, menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan ancaman bagi industri media dan bisnis digital. Sebaliknya, teknologi ini dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru melalui pengembangan model bisnis dan monetisasi lintas platform.
Pandangan tersebut disampaikan Mirdal saat menjadi pembicara utama dalam AI & Cybersecurity Executive Forum (AICX) 2026, bagian dari rangkaian Bali Tech Week di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026).
Menurut Mirdal, perkembangan AI membuka peluang bagi pelaku industri untuk mengoptimalkan pemanfaatan data, memahami kebutuhan audiens, serta mengembangkan layanan yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
AI Buka Peluang Pendapatan Baru
Mirdal menjelaskan, AI dapat membantu perusahaan memperoleh wawasan yang lebih mendalam dari data sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan bisnis. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sumber pendapatan baru melalui berbagai platform digital.
“AI memberikan kita insight yang jauh lebih baik, memberikan efek atau dampak yang lebih besar, serta membuat pengelolaan data menjadi jauh lebih mudah. Kemudahan-kemudahan inilah yang harus dikonversi menjadi peluang pendapatan baru yang lebih besar,” jelas Mirdal.
Penerima penghargaan The Best CEO 2021 versi Majalah SWA tersebut menilai, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada pengembangan model bisnis yang mampu menjawab kebutuhan pasar. Dengan strategi yang tepat, teknologi ini dapat menjadi instrumen untuk memperluas peluang pertumbuhan industri media dan bisnis digital.
AI Dukung Kualitas Jurnalisme
Di sektor jurnalistik, Mirdal menilai AI tidak semestinya dipandang sebagai teknologi yang akan menggantikan peran jurnalis. Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten untuk mendukung proses kerja jurnalistik dan meningkatkan kualitas konten.
Teknologi ini dapat membantu mempercepat riset data, transkripsi wawancara, hingga analisis tren. Dengan dukungan tersebut, jurnalis memiliki lebih banyak ruang untuk memperdalam pemberitaan, melakukan investigasi, serta memastikan akurasi informasi.
“Kita bisa menyajikan informasi yang lebih presisi, kaya perspektif, dan relevan dengan kebutuhan audiens,” ucapnya.
Pemanfaatan AI, lanjutnya, perlu diarahkan untuk memperkuat kualitas informasi yang disajikan kepada publik. Teknologi dapat membantu proses kerja, tetapi integritas dan tanggung jawab manusia tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan produk jurnalistik.
Regulasi dan Keamanan Siber Jadi Perhatian
Meski menawarkan peluang ekonomi dan efisiensi operasional, Mirdal mengingatkan pentingnya etika serta kerangka regulasi yang jelas dalam penerapan AI di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia perlu mempelajari pengalaman negara lain yang memiliki sistem demokrasi serupa untuk merancang kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
“Kita harus belajar dari negara yang demokrasinya seperti kita. Kita perlu merancang etika dan kerangka kerjanya (framework) sejak dini,” jelasnya.
Selain tata kelola, kesiapan infrastruktur keamanan siber juga menjadi perhatian. Adopsi AI secara luas di berbagai sektor industri perlu diimbangi dengan sistem keamanan yang tangguh untuk melindungi data, sistem digital, dan kepercayaan masyarakat.
Mirdal menegaskan, kemajuan teknologi tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai mendasar yang menjadi landasan industri media, terutama integritas manusia yang bertanggung jawab atas informasi yang dipublikasikan.
Dengan pendekatan yang tepat, AI dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing industri media dan bisnis digital, sekaligus membuka peluang pendapatan baru tanpa mengabaikan etika, akurasi, dan keamanan ekosistem digital. (sha)
