Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta saat membuka workshop literasi digital sektor pembayaran bertajuk “Tips Aman Bertransaksi Online” yang diinisiasi oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Badung, Selasa (21/4/2026) di Gedung Kertha Gosana, Puspem Badung. (dok: istimewa)
REALITASBALI | Badung – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Badung menggelar workshop literasi digital sektor pembayaran bertajuk “Tips Aman Bertransaksi Online”, Selasa (21/4/2026) di Gedung Kertha Gosana, Puspem Badung. Kegiatan ini menyasar 200 peserta dari kalangan UMKM, Gen Z, milenial, hingga wartawan.
Workshop dibuka Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, didampingi sejumlah pejabat daerah dan perwakilan lembaga terkait. Fokus kegiatan mengarah pada perubahan pola transaksi masyarakat dari sistem konvensional menuju digital yang lebih praktis namun tetap aman.
Dalam sambutannya, Alit Sucipta menekankan pentingnya literasi digital sebagai kunci perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi.
“Bagaimana merubah masyarakat, bagaimana membayar yang biasa konvensional menjadi cashless,” ujarnya.
Ia juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Badung terhadap kegiatan SMSI sebagai bagian dari penguatan ekosistem UMKM.
“Kami mendorong dan ikut mensukseskan kegiatan ini. Literasi ini menambah wawasan di kalangan Gen z, UMKM dan masyarakat. Acara ini sangat positif, kami selalu mensupport SMSI Badung. Mendukung melalui penguatan sistem, pendampingan target UMKM berdaya saing,” ujarnya.
Risiko Digital Masih Minim Dipahami
Ketua SMSI Badung, I Nyoman Sarmawa, menyebut literasi digital di sektor pembayaran masih menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi masyarakat yang belum memahami sistem transaksi online secara utuh.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, digitalisasi ini akan terjadi dan harus dialami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, digitalisasi memberi banyak kemudahan, mulai dari efisiensi transaksi hingga mengurangi risiko kejahatan dan peredaran uang palsu. Namun di sisi lain, masih banyak risiko yang belum dipahami masyarakat.
Kasus salah transfer, gangguan jaringan saat transaksi, hingga saldo terpotong tanpa transaksi berhasil menjadi persoalan yang sering muncul. Selain itu, potensi penipuan melalui QRIS juga perlu diwaspadai.
“Misalnya barkode ditukar sehingga dana kita jatuh kepada orang-orang yang berniat jahat,” jelasnya.
Fokus Solusi Praktis Transaksi Aman
Workshop ini tidak hanya membahas konsep, tetapi juga solusi praktis yang langsung bisa diterapkan. Materi difokuskan pada tiga persoalan utama, yakni cara mengatasi transaksi gagal namun saldo terpotong, solusi saat jaringan lambat, serta cara menghindari penipuan QRIS.
Sejumlah narasumber dihadirkan dari sektor keuangan, di antaranya perwakilan BPD Bali, OJK Provinsi Bali, dan Bank Indonesia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya konkret mendorong pelaku UMKM di Badung agar tidak hanya menggunakan sistem digital, tetapi juga memahami risiko dan cara mitigasinya. Tanpa pemahaman itu, percepatan digitalisasi justru berpotensi menimbulkan kerugian baru di tingkat masyarakat.
