Putu 'PW' Winata, pelukis 'Jatiluwih, A Beauty Interrupted', di Deus Ex Machina, Bali. (dok.Rahma)
REALITASBALI | Badung – Pameran tunggal bertajuk “Jatiluwih, A Beauty Interrupted” karya Putu “PW” Winata resmi dibuka di Deus Ex Machina Bali, kawasan Kuta Canggu, Sabtu (24/1/2026). Pameran ini dikuratori Arif Bagus Prasetyo dan menghadirkan puluhan karya lukisan abstrak yang merefleksikan keindahan sekaligus konflik sosial di kawasan subak Jatiluwih, Tabanan.
Tema besar pameran ini berangkat dari peristiwa protes petani Jatiluwih pada Desember 2025. Saat itu, barisan seng dipasang di area sawah sebagai simbol kekecewaan terhadap kebijakan penutupan usaha pariwisata yang dianggap merugikan masyarakat lokal.
Aksi tersebut sempat menurunkan kunjungan wisatawan dan membuka kembali perbincangan tentang tarik-menarik kepentingan antara regulasi, industri pariwisata, dan keberlangsungan hidup petani di situs Warisan Budaya Dunia UNESCO itu.
PW mengolah konflik tersebut dalam bahasa visual yang tidak sekadar menampilkan panorama alam. Melalui abstraksi kaya tekstur dan warna, ia menghadirkan garis mengalir menyerupai irigasi subak, lapisan bidang warna seperti terasering sawah, serta goresan tebal yang merekam jejak waktu, tenaga, dan harapan.
Namun keindahan itu tidak berdiri sendiri. Sejumlah karya justru menghadirkan ruang kosong yang dominan. Kekosongan ini menjadi metafora keheningan yang menyimpan kegelisahan ekonomi dan sosial masyarakat Jatiluwih.
Strategi visual tersebut diperkuat dengan kehadiran instalasi seng, yang secara simbolik merujuk langsung pada aksi protes petani. Seng-seng itu menjadi representasi luka di balik gemerlap lanskap pariwisata.
Kurator Arif Bagus Prasetyo menilai pameran ini sebagai arsip emosional sekaligus pernyataan etis tentang Jatiluwih kontemporer. Warisan budaya, menurutnya, tidak seharusnya dipandang sebagai objek visual semata, melainkan sistem hidup yang menuntut keadilan bagi para pengampunya.
Alasan Memilih Jatiluwih
Dalam wawancara, PW mengungkapkan alasan utama memilih Jatiluwih sebagai tema besar karyanya. Salah satunya karena Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia, yang diakui oleh UNESCO.
“Jadi selain itu, salah satu penyebab saya untuk melihat Jatiluwih dan saya melihat banyak hal-hal yang perlu diperbaiki, perlu diingatkan lagi terhadap sistem irigasi kemudian warisan budaya ditetapkan oleh UNESCO dan kita harus menjaga sama-sama,” ujar PW.
Sebanyak 42 karya ditampilkan dalam pameran ini, terdiri dari berbagai ukuran kanvas. Dari mulai karya dengan ukuran kecil, besar, dan cukup besar
Seluruh karya berupa lukisan abstrak, dengan tambahan instalasi seng sebagai elemen kritik sosial.
“Semua lukisan, tetapi saya masukan ada beberapa hal, seperti instalasi seng-seng karena tahun 2025 Desember, pada saat kejadiannya, para petani sedikit memprotes dengan kebijakan pemerintah pada saat itu yang mereka menganggap kurang berpihak kepada petani,” kata PW.
Berproses Selama 6 Bulan
Ia menyebut proses penciptaan karya berlangsung kurang lebih selama 6 bulan. Terkait gaya visual, PW menegaskan konsistensinya pada aliran abstrak.
“Saya dari dulu memang lukis konsep abstrak, tepatnya abstrak. Jadi abstrak setiap hari. Lukis abstrak tapi masih ada permula atau ada bentuk-bentuk yang kita bisa sedikit kenal.”
Pemilihan Deus Ex Machina Bali sebagai lokasi pameran juga bukan tanpa pertimbangan.
“Karena DEUS itu punya potensi yang besar terhadap seniman seniman yang ada di Bali khususnya karena DEUS mempunyai “market atau peminat”, warga-warga negara Rusia. Nah itu juga yang menurut saya, saya ingin perkenalkan karena ini di lingkungan mereka,” ujarnya.
Pameran ini menjadi pameran tunggal kedua PW pada tahun 2026, sekaligus menambah daftar panjang perjalanan seninya sejak awal 2000-an. “Mungkin dari 2001 sampai sekarang sudah 17 pameran Tunggal,” jelas dia.
Jatiluwih, A Beauty Interrupted akan berlangsung dari tanggal 24 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026.
Melalui pameran ini, PW berharap perhatian terhadap kesejahteraan petani dan tata kelola kawasan Jatiluwih semakin serius.
“Pertama, kesejahteraan petani. Mungkin itu harus diutamakan, karena kita tahu bersama, petani itu menjadi objek. Objek harus sejahtera dulu dong, baru dia bisa menjadi objek. Kedua sistem tata kelola pembangunan, harus ditata dengan baik bagaimana pembangunannya kedepan,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya penataan pariwisata agar tetap sejalan dengan nilai budaya dan ekologis. “Sehingga UNESCO memandang Jatiluwih benar benar murni”, pungkasnya.
