Ilustrasi orang liburan. (dok.AI)
REALITASBALI | Denpasar – Libur panjang Natal dan Tahun Baru 2025/2026 menjadi momentum perubahan pola liburan masyarakat Indonesia. Alih-alih bepergian ke luar negeri, mayoritas wisatawan justru memilih menjelajahi destinasi dalam negeri, dengan Yogyakarta muncul sebagai tujuan paling diminati berdasarkan survei platform akomodasi RedDoorz.
Dilansir dari liputan6.com, dalam siaran langsung RedDoorz melalui Instagram, Manajer Public Relation RedDoorz Indonesia, Devi Febriana, mengungkapkan bahwa minat terhadap wisata domestik didorong oleh pertimbangan biaya dan daya tarik alam.
“Ternyata di akhir tahun ini, wisatawan paling banyak memilih jalan-jalan ke dalam negeri nih sebanyak 86 persen. Ada juga 13,4 persen-nya memilih untuk liburan ke luar negeri,” ujar Devi Febriana.
Ia menjelaskan, faktor finansial masih menjadi alasan utama dalam menentukan tujuan liburan, disusul pesona alam dan lanskap destinasi.
“Faktor utamanya apa sih dari pemilihan destinasi liburan ini yang pertama itu ternyata ada biaya dan promosi. Lalu yang kedua ada faktor alam juga dan pemandangannya,” jelas Devi.
Yogyakarta Unggul sebagai Kota Liburan Akhir Tahun
Dalam peta persaingan destinasi wisata nasional, Yogyakarta berhasil mengungguli Bandung dan Bali sebagai tujuan paling diminati saat libur akhir tahun. Kondisi ini mencerminkan kecenderungan wisatawan yang mulai melirik kota budaya dengan biaya lebih terjangkau serta pengalaman lokal yang dinilai lebih autentik.
Temuan tersebut sejalan dengan pandangan travel influencer Dimas Ramadhan yang menilai kekayaan wisata dalam negeri masih menjadi yang terbaik.
“Jujur tuh aku udah ke 82 negara sekarang, tapi Indonesia masih nomor satu. Ini aku benar-benar ngomong beneran karena emang alamnya tuh indah banget,” kata Dimas.
Ia secara khusus menyoroti daya tarik wilayah timur Indonesia.
“la memuji eksotisme Indonesia bagian timur. Mulai dari Sabang sampai Merauke, apalagi timur tuh bagus banget kayak Raja Ampat terus kayak Labuan Bajo,” tambahnya.
Perencanaan Jauh Hari
Namun demikian, Dimas mengingatkan potensi lonjakan harga tiket dan akomodasi selama periode libur panjang. Menurutnya, perencanaan jauh hari menjadi kunci agar biaya perjalanan tetap terkendali.
“Kalau liburan akhir tahun ini wajib banget kayak setidaknya dua bulan atau tiga bulan sebelumnya karena tentunya tiket penerbangan kadang mahal, akomodasi itu jadi ya naik pasti ya harganya,” ucap Dimas.
Ia juga menyarankan wisatawan menyusun anggaran harian secara rinci.
“Jadi di list hotelnya bujetnya sekian. Nah, kalian cari hotelnya tuh harganya yang sekian,” saran Dimas.
Selain itu, pengaturan konsumsi selama perjalanan dinilai tak kalah penting.
“Terus tempat makannya juga kalian kan bisa pakai Google kan nanti cek rumah makannya harganya berapa, jadi enggak akan membeludak,” sambungnyanya.
Untuk pengalaman wisata yang lebih tenang dan berbeda, Dimas mendorong wisatawan aktif bertanya langsung kepada warga setempat guna menemukan lokasi non-mainstream.
“Biasanya kalau itu selalu dari orang lokal sih. Karena kalau misalkan di sosmed udah enggak hidden gem lagi dong,” ujar Dimas.
“Jadi aku selalu pas nyampai tuh nanya orang lokal. Kak, yang hidden gem di mana sih yang enggak banyak ramai?” tuturnya.
Ia juga berbagi pengalamannya terkait budaya kebersihan di Jepang.
“Di Jepang tuh enggak ada tong sampah loh. Ternyata orang Jepang tuh buang sampahnya ke tas mereka aja gitu, disimpan,” ceritanya.
