Peletakan batu pertama Rumah sakit mata internasional JEC Bali @ Sanur resmi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Sabtu (14/2/2026). (dok.Rahma)
REALITASBALI | Denpasar – Rumah sakit mata internasional JEC Bali @ Sanur resmi memulai pembangunan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Sabtu (14/2/2026). Fasilitas ini ditargetkan rampung pertengahan 2027 dan membidik 30.000 kunjungan pada tahun pertama operasionalnya.
Peletakan batu pertama dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. dr. I Nyoman Gede Anom, Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour Christine Hutabarat, serta Presiden Direktur PT Nitra Sanata Bali dr. dr. Johan A Hutauruk.
Bidik Pasien yang Berobat ke Luar Negeri
Presiden Direktur PT Nitra Sanata Bali, dr. Johan, menyebut pendirian fasilitas ini tidak lepas dari tingginya angka masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri. Ia menyebut sekitar dua juta orang Indonesia setiap tahun menjalani pengobatan di luar negeri.
“Mungkin karena suasanya yang kurang mendukung. Kalau disini (di Bali) sangat mendukung. Dibikin suasana yang enak, tidak macet seperti di Jakarta, ada fasilitas hotelnya,” ujar dokter Johan.
Ia menegaskan konsep layanan dirancang agar pasien tidak hanya mendapatkan tindakan medis, tetapi juga pengalaman pemulihan yang nyaman.
“Makanya JEC dalam hal ini tidak mempunyai ruang rawat inap. Kami berkolaborasi dengan Bali Internasional Hospital kalau mau menginep, kalau penyakit parah, menginap di Bali Internasional Hospital,” imbuhnya.
JEC Bali @ Sanur akan menghadirkan layanan unggulan. Antara lain, FLACS (Semi-robotic Cataract Surgery), SMILE PRO, LASIK & Implantable Collamer Lens (ICL), Glaucoma, Vitreo-Retina, Myopia Control Center, hingga Dry Eye Center.
Menurut dr. Johan, katarak masih menjadi salah satu penyakit mata terbanyak di dunia dan memiliki potensi besar dalam skema medical tourism karena prosedurnya bisa direncanakan.
“Beda dengan usus buntung ga bisa kita medical tourism usus buntung. Dia harus dioperasi secepatnya mau lagi di Jakarta, di Jakarta lagi di luar negeri, di luar negeri. tapi kalau ini dia bisa pikir saya kata, saya katarak nih, kata dokternya, mau dioperasi di mana? mau dioperasi di Bali atau mau dioperasi di Thailand atau mau di Malaysia? dia bisa pikir,” paparnya.
Konsep Blue Hospital dan Dukungan Pemprov
Rumah sakit ini dibangun di atas lahan 6.200 meter persegi. Dengan total luas bangunan 12.000 meter persegi dan terdiri dari empat lantai dan semi basement. Konsep yang diusung adalah “Blue Hospital”, mengintegrasikan prinsip smart dan green dalam desain serta operasional.
Kehadirannya dinilai memperkuat posisi KEK Sanur sebagai pusat layanan kesehatan spesialis di Asia Tenggara.
Gubernur Wayan Koster menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan tersebut.
“Ini akan menjadi layanan kesehatan mata berkelas dunia di Provinsi Bali, yang saya kira ini akan sejalan dengan upaya kita bersama di Bali mengembangkan pariwisata berbasis kesehatan. Ini yang kita dukung,” ungkap Koster.
Menurutnya, fasilitas ini memberi efek ganda bagi Bali.
“Jadi membangun satu dapatnya dua. Jadi Layanan kesehatan yang pertama, yang kedua adalah kedatangan wisawatan mancanegara maupun domistik ke Bali itu akan meningkat kedepannya,” ujar Koster.
“Saya kira ini menjadi suatu kebanggan bagi Provinsi Bali kedepannya. Saya menyambut baik, dan mendukung sepenuhnya,” tutupnya.
