Gubernur Bali Wayan Koster bersama perwakilan pemerintah pusat, Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara, serta investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd, yang akan menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE). (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mematangkan percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar. Proyek ini diposisikan sebagai solusi jangka panjang untuk persoalan sampah di Bali, dengan target groundbreaking pada Juni 2026.
Pembahasan dilakukan bersama perwakilan pemerintah pusat, Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara. Serta investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd, yang akan menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE).
Bali Klaim Siap, Tinggal Eksekusi
Dalam pertemuan tersebut, Koster menegaskan kesiapan Bali sebagai lokasi prioritas pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis energi. Ia menyebut koordinasi lintas pemerintah daerah sudah solid.
“Kami di Bali sudah satu tim, gubernur, wali kota, dan para bupati. Lahan sudah disiapkan, akses jalan sudah ada, dan sosialisasi kepada masyarakat juga sudah dilakukan. Masyarakat pada prinsipnya sudah setuju, jadi sekarang tinggal berjalan,” ujarnya.
Ia juga meminta kejelasan timeline agar proyek tidak kembali tersendat seperti sejumlah program pengelolaan sampah sebelumnya.
“Kami siap mensupport apa pun yang dibutuhkan agar proyek ini berjalan lancar. Isu pengolahan sampah ini sangat ditunggu masyarakat Bali, jadi kita dorong percepatannya,” tegasnya.
Target Groundbreaking dan Tantangan Realisasi
Dari pemerintah pusat, Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menyatakan proyek PSEL Bali masuk dalam batch pertama nasional.
Target awal dimulai dari peluncuran di empat lokasi pada April 2026, dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemerintah daerah dan Danantara.
“Kami mohon dukungan dari pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan PKS antara Pemda dan BUPP Danantara, termasuk komitmen jumlah volume sampah yang akan diolah setiap harinya,” ujarnya.
Meski target groundbreaking dipatok akhir Juni 2026, pengalaman proyek infrastruktur serupa menunjukkan bahwa tantangan utama justru ada pada konsistensi eksekusi, kepastian pasokan sampah, dan pengawasan teknis di lapangan.
Klaim Teknologi Ramah Lingkungan
Pihak investor memastikan teknologi yang digunakan akan memenuhi standar emisi Eropa. Sistem yang diterapkan juga diklaim menggunakan konsep zero limbah air (lindi), serta mampu mengolah residu menjadi produk turunan seperti paving block dan material konstruksi.
Selain itu, dukungan operasional juga disiapkan melalui pengadaan truk listrik untuk pengangkutan sampah.
Namun di balik klaim teknologi tersebut, kunci keberhasilan tetap bergantung pada dua hal yang selama ini menjadi titik lemah: disiplin pemilahan sampah dari sumber dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Jika dua hal ini tidak berjalan, PSEL berisiko hanya menjadi proyek mahal yang tidak optimal.
Bila berhasil, PSEL Denpasar berpotensi menjadi model pengelolaan sampah modern di Indonesia. Sebaliknya, jika kembali tersendat, krisis sampah Bali akan semakin sulit dikendalikan.
