Ngurah KK, seniman Bali di pameran seni lukis bertajuk “Naive Art Melukis Surga” di THE 1O1 Bali Oasis Sanur. (dok.saifullah)
REALITASBALI | Denpasar – Di tengah arus seni kontemporer dan pasar pariwisata yang makin pragmatis, gaya lukisan Young Artist dari Desa Panestanan, Ubud, kembali dihadirkan ke ruang publik melalui pameran seni lukis bertajuk “Naive Art Melukis Surga” di THE 1O1 Bali Oasis Sanur.
Pameran yang berlangsung pada 15 Januari hingga 15 Maret 2026 ini menampilkan karya-karya Ngurah KK. Ia merupakan seniman Bali yang secara konsisten mempertahankan pendekatan visual khas Young Artist Style. Yaitu gaya yang tumbuh dari lingkungan desa, pengalaman kolektif, dan pengamatan keseharian masyarakat.
Berbeda dari kecenderungan seni yang sarat konsep dan simbol rumit, karya-karya dalam pameran ini justru menempatkan kesederhanaan sebagai kekuatan utama. Aktivitas bertani, kehidupan sosial desa, hingga relasi manusia dengan alam dan spiritualitas digambarkan secara lugas, jujur, dan spontan.
Dalam konteks Bali hari ini, pendekatan tersebut menjadi penting. Lukisan-lukisan Ngurah KK tidak sekadar menawarkan nostalgia visual. Tetapi juga berfungsi sebagai catatan sosial tentang ruang hidup desa yang perlahan terdesak oleh pembangunan dan perubahan orientasi ekonomi.
Desa Panestanan digambarkan sebagai ruang yang mungkin sederhana secara materi, namun kaya secara nilai. Ada paradoks yang ditampilkan secara halus. Tentang keterbatasan ekonomi berjalan beriringan dengan kelimpahan budaya dan spiritualitas yang masih dijaga.
General Manager THE 1O1 Bali Oasis Sanur, Nyoman Astika, menyebut pameran ini sebagai bagian dari upaya hotel membuka ruang dialog antara seni, pariwisata, dan masyarakat lokal. Menurutnya, seni dapat menjadi medium untuk mempertemukan tamu dengan cerita dan nilai Bali yang lebih mendalam, di luar pengalaman wisata yang bersifat permukaan.
Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh tamu hotel maupun masyarakat luas. Lebih dari sekadar ruang apresiasi seni, Naive Art Melukis Surga diharapkan memantik percakapan tentang bagaimana warisan visual Bali dapat tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
