Advokat muda dari Bali Endang Hastuty Bunga.
REALITASBALI | Denpasar – Momentum peringatan Raden Ajeng Kartini setiap bulan April dinilai tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Hari Kartini harus menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana perempuan benar-benar merdeka dalam kehidupan nyata.
Faktanya, berbagai kasus yang menimpa perempuan seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, hingga eksploitasi masih terus terjadi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Hal tersebut disampaikan oleh Endang Hastuty Bunga, SH., seorang advokat muda keturunan Bali–Kupang NTT. Ia menegaskan bahwa persoalan perempuan bukan lagi sekadar isu sosial, melainkan telah menjadi persoalan kemanusiaan yang serius.
“Saya berbicara bukan hanya sebagai seorang advokat, tetapi sebagai perempuan yang melihat langsung realitas di lapangan. Perempuan bukan lemah, tetapi sering dilemahkan oleh sistem, budaya, dan pola pikir yang salah,” tegas Endang.
Menurutnya, konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki sebagai “kepala” kerap disalahartikan, sehingga perempuan tidak memiliki ruang untuk menyuarakan pendapat. Kondisi ini membuat banyak perempuan memilih diam meskipun mengalami ketidakadilan.
“Diam bukan solusi. Diam justru memperpanjang penderitaan. Perempuan harus berani bersuara ketika diperlakukan tidak adil,” lanjutnya.
Soroti Rendahnya Akses Pendidikan
Ia menyoroti rendahnya akses pendidikan sebagai salah satu akar persoalan utama. Tanpa pendidikan, perempuan dinilai akan terus berada dalam posisi rentan.
“Pesan saya sangat jelas dan tidak bisa ditawar: perempuan harus berpendidikan. Pendidikan adalah kunci yang membuka banyak pintu. Tanpa pendidikan, perempuan akan terus berada dalam posisi rentan,” ujarnya.
Selain itu, kemandirian finansial juga dianggap penting sebagai bentuk perlindungan diri. Dengan kemampuan ekonomi sendiri, perempuan memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan hidupnya.
“Perempuan harus bisa mencari uang sendiri. Bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi agar tidak menjadi beban dan memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Kemandirian itu adalah bentuk perlindungan diri,” katanya.
Endang juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara emosi dan rasionalitas, khususnya dalam dunia profesional.
“Perasaan itu manusiawi, tetapi jangan sampai mengendalikan masa depan. Perempuan harus kuat secara emosional, namun tetap rasional dalam mengambil keputusan,” tambahnya.
Ubah Cara Melihat Diri
Dalam pandangannya, perempuan juga perlu mengubah cara melihat diri, termasuk dalam hal standar kecantikan.
“Kita boleh ingin tampil cantik, itu wajar. Tapi jangan biarkan dunia mendikte standar cantik kita. Cantik itu bukan hanya fisik, tetapi bagaimana kita berpikir, bertindak, dan memberi dampak,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki bukanlah pihak yang saling berlawanan, melainkan mitra yang harus saling melengkapi.
“Kesetaraan bukan tentang siapa lebih unggul, tetapi tentang saling menghargai. Perempuan tidak perlu merendahkan diri, dan laki-laki juga bukan musuh,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Endang menyampaikan seruan tegas kepada seluruh perempuan Indonesia.
“Perempuan harus berpendidikan. Perempuan harus mandiri. Perempuan harus berani bersuara. Jika kita tidak memperjuangkan diri kita sendiri, maka tidak ada yang akan melakukannya untuk kita,” tutupnya. (idr)
