Dialog langsung dengan Gubernur Bali Wayan Koster beserta jajaran, di Kantor DPRD Bali, Rabu (22/4/2026). (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Aksi mahasiswa Universitas Udayana terkait krisis sampah di Bali berujung dialog langsung dengan Gubernur Bali Wayan Koster di Kantor DPRD Bali, Rabu (22/4/2026).
Dalam pertemuan itu, mahasiswa menyoroti lemahnya sistem pengelolaan sampah, mulai dari koordinasi antar lembaga, keterbatasan fasilitas. Hingga dampak penutupan TPA Suwung sejak awal April yang dinilai belum diimbangi kesiapan sistem pengganti.
Menanggapi hal tersebut, Koster mengapresiasi aksi mahasiswa sebagai bentuk kepedulian publik terhadap persoalan lingkungan di Bali.
Ia kemudian menjelaskan bahwa pengelolaan sampah tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah provinsi.
Berdasarkan regulasi, operasional utama berada di tingkat kabupaten/kota, sementara provinsi berperan dalam pengawasan dan koordinasi.
“Di Bali, kami tidak memisahkan secara kaku. Semua bergerak bersama, dari provinsi, kabupaten/kota hingga desa adat,” tegasnya.
Suwung Ditutup karena Kondisi Kritis
Koster memaparkan, kondisi TPA Suwung saat ini sudah berada di titik kritis. Ia menyebut tumpukan sampah yang terus meningkat telah memicu berbagai persoalan lingkungan.
Ia juga menegaskan praktik open dumping yang masih terjadi bertentangan dengan aturan dan harus dihentikan.
“Ini bukan pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak dihentikan, dampaknya makin parah,” tandas Koster.
Pemerintah pun menetapkan tahapan penutupan, dimulai dengan pembatasan sampah residu hingga penghentian total operasional pada Agustus 2026.
Infrastruktur Dikejar, Tapi Bertahap
Menjawab kritik soal kesiapan sistem pengganti, Koster menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah sedang dipercepat.
Ia menyebut sejumlah infrastruktur seperti TPST Kertalangu, TPST Tahura I dan II, serta TPS3R di Denpasar dan Badung tengah dioptimalkan untuk menampung pengolahan sampah.
Koster juga mengingatkan bahwa proses pembangunan tidak bisa instan karena harus melalui tahapan teknis.
“Tidak bisa hari ini pesan, besok langsung beroperasi. Semua harus sesuai prosedur dan standar,” jelasnya.
Saat ini, pengelolaan sampah berbasis sumber disebut baru mencapai sekitar 30 persen, meski kesadaran masyarakat untuk memilah sampah mulai meningkat.
PSEL Disiapkan, Suwung Jadi Ruang Publik
Selain langkah jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) bekerja sama dengan pemerintah pusat dan PT PLN.
Proyek ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 1.000 ton sampah per hari, dengan konstruksi dimulai pada 2026 dan operasi ditargetkan berjalan pada 2027.
Koster juga memastikan kawasan eks TPA Suwung tidak akan dialihkan untuk kepentingan komersial, melainkan direhabilitasi menjadi ruang terbuka hijau.
Di akhir dialog, ia menegaskan bahwa pemerintah dan mahasiswa memiliki tujuan yang sama dalam menyelesaikan persoalan sampah di Bali, meski membutuhkan proses bertahap agar berjalan sesuai rencana.
