PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) melaksanakan kick-off proyek rejuvenasi kawasan pada Rabu (28/1/2026). (dok istimewa)
REALITASBALI | Badung – Kawasan pariwisata The Nusa Dua resmi memasuki fase peremajaan besar-besaran setelah 52 tahun dikembangkan. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) melaksanakan kick-off proyek rejuvenasi kawasan pada Rabu (28/1/2026) sebagai langkah transformasi infrastruktur dan fasilitas publik.
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan proyek ini menjadi tonggak penting untuk menjaga daya saing The Nusa Dua sebagai destinasi kelas dunia. Dan sekaligus menyesuaikan kawasan dengan kebutuhan pariwisata modern yang berkelanjutan.
“Transformasi ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi langkah menyeluruh untuk memperkuat kualitas tata ruang, fasilitas publik, kenyamanan pengunjung, dan keberlanjutan lingkungan di kawasan,” ujar Ahmad Fajar.
Tahap Awal Peremajaan Infrastruktur
Dalam tahap awal, ITDC melakukan peremajaan infrastruktur inti berupa overlay jalan sepanjang 3,7 kilometer untuk mendukung aktivitas kawasan. Selain itu, jalur pedestrian sepanjang 7,5 kilometer ditata ulang, termasuk sistem pencahayaan agar lebih aman dan nyaman, terutama pada malam hari.
Penataan juga dilakukan pada akses menuju Peninsula Island agar lebih teratur. Serta pengembangan fasilitas pengelolaan sampah berbasis Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dengan luas mencapai 5.000 meter persegi. Hal ini berguna memperkuat sistem manajemen lingkungan kawasan.
Peninsula Island ditetapkan sebagai titik awal rejuvenasi karena berfungsi sebagai ruang publik utama The Nusa Dua. Pada tahap pertama, ITDC menata ulang panggung event, akses menuju Water Blow, serta membangun area wedding untuk memperkuat daya tarik wisata premium.
Sementara itu, Pulau Nusa Dharma direncanakan dikembangkan sebagai wellness island dengan fasilitas yoga, meditasi, dan aktivitas kebugaran lainnya.
Pembangunan Berdasarkan Kajian Lingkungan
ITDC menegaskan seluruh proses pembangunan dilakukan berdasarkan masterplan kawasan serta kajian lingkungan melalui Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL).
“Kami memastikan pembangunan berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan serta tetap menghormati budaya dan kearifan lokal Bali,” kata Ahmad Fajar.
Proyek rejuvenasi The Nusa Dua direncanakan berlangsung bertahap selama tiga tahun, mulai 2026 hingga 2028. ITDC berharap peremajaan ini tidak hanya meningkatkan kualitas kawasan wisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.
Prosesi adat Ngeruak yang mengawali kick-off proyek menjadi simbol keterlibatan nilai tradisi Bali dalam setiap tahapan pembangunan kawasan.
