Suasana Festival FOTO Bali Festival. (dok.nuanu)
REALITASBALI | Denpasar – Keberadaan FOTO Bali Festival menandai upaya serius membangun ruang fotografi internasional yang berkelanjutan di Bali. Sejak pertama kali digelar pada 2025, festival ini tidak hanya hadir sebagai ajang pameran. Tetapi juga sebagai ruang temu lintas praktik yang menghubungkan fotografer Asia Tenggara dengan komunitas global.
Pada edisi perdananya, FOTO Bali Festival menampilkan karya 34 seniman dari 10 negara. Para peserta terpilih melalui proses seleksi dari 247 pengajuan karya yang datang dari 29 negara.
Tingginya partisipasi tersebut memperlihatkan kebutuhan akan sebuah platform fotografi yang terbuka. Serta sekaligus menempatkan Bali sebagai bagian aktif dalam percakapan fotografi kontemporer.
Festival Director FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma, menyebut respons para seniman menjadi penanda kuat relevansi festival ini.
“Respons yang kami terima dari para seniman di Asia Tenggara dan komunitas fotografi internasional menunjukkan bahwa platform ini memang dibutuhkan,” ujarnya.
Komitmen Jangka Panjang Nuanu Creative City
Ia juga menekankan dukungan Nuanu Creative City sebagai komitmen jangka panjang terhadap pembangunan infrastruktur budaya, bukan sekadar proyek sesaat.
“Sejak awal, festival ini kami kembangkan secara organik melalui praktik, dengan tetap peka pada konteks dan terbuka bekerja bersama para seniman,” tambahnya.
Memasuki edisi kedua, Nuanu menunjuk dua kurator asal Indonesia sebagai tim kuratorial FOTO Bali Festival 2026, yakni Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari.
Keduanya bertanggung jawab merumuskan arah kuratorial, menyeleksi seniman, serta menyusun program publik festival.
Berbasis di Yogyakarta, Kurniadi Widodo dikenal sebagai fotografer, pendidik, dan kurator dengan pengalaman panjang dalam praktik dokumenter serta pendidikan fotografi.
Sudut Pandang Kurator
Sementara Putu Sridiniari, kurator dan peneliti asal Bali yang bekerja antara Bali dan Yogyakarta, membawa pendekatan berbasis riset. Yang berangkat dari seni visual, arsip, serta isu memori, tempat, dan konteks sosial-politik. Perspektif keduanya menjadi fondasi kuratorial FOTO Bali Festival 2026.
“Festival ini menawarkan ruang penting bagi para fotografer untuk bertemu melampaui batas institusional maupun geografis,” ujar Kurniadi.
Ia menegaskan fokusnya pada penyusunan kerangka kuratorial yang memungkinkan dialog antarpra ktik tanpa melepaskan konteks asal masing-masing.
Sementara itu, Putu Sridiniari melihat fotografi sebagai medium yang bergerak melintasi waktu dan ruang sosial.
“Bagi saya, fotografi adalah cara menelusuri bagaimana gambar bergerak melalui waktu, ingatan, dan ruang sosial. Di FOTO Bali Festival, menarik melihat bagaimana praktik fotografi dibentuk oleh realitas setempat, namun tetap berdialog dengan konteks yang lebih luas,” katanya.
Dirancang Melampui Format Pameran
Sebagai agenda tahunan, FOTO Bali Festival dirancang melampaui format pameran. Festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan. Mencakup diskusi, pertemuan publik, serta inisiatif edukatif, yang membuka ruang interaksi antara praktisi dan masyarakat.
Pendekatan ini menempatkan fotografi sebagai praktik yang terus berkembang dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori, serta kondisi sosial di mana gambar diproduksi.
Penyelenggaraan edisi kedua sekaligus menegaskan komitmen Nuanu dalam mendukung praktik seni dan pertukaran internasional di Bali.
Melalui festival fotografi berskala internasional ini, Bali diposisikan tidak hanya sebagai lokasi pameran, tetapi sebagai ruang aktif dalam praktik fotografi kontemporer serta percakapan seni di Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya.
