Grand Trial atau mini turnamen panahan yang diikuti 77 anak, di Lapangan Parkir Musholla Baitul Mukminin BKDI Bali, Panjer, Denpasar, Minggu (30/8/2026). (dok: redaksi)
RealitasBali | DENPASAR – Sebanyak 77 anak mengikuti Grand Trial atau mini turnamen panahan yang digelar di Lapangan Parkir Musholla Baitul Mukminin BKDI Bali, Panjer, Denpasar, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pelaksanaannya melibatkan Musholla Baitul Mukminin Panjer, Panah Indonesia Bali, dan Warrior Bali Archery.
Grand Trial ini bukan sekadar perlombaan. Kegiatan yang rutin digelar setiap tiga bulan tersebut menjadi sarana evaluasi perkembangan kemampuan anak setelah menjalani latihan secara berkala.
Peserta Dibagi Berdasarkan Usia
Puluhan peserta dibagi ke dalam sejumlah kategori berdasarkan kelompok usia dan jarak memanah.
Anak usia taman kanak-kanak mulai lima tahun mengikuti kategori jarak 3 meter. Sementara siswa SD kelas 1 hingga kelas 5 bertanding pada jarak 5 meter.
Adapun peserta kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP mengikuti kategori dengan jarak 7 meter.
Para peserta berkesempatan memperoleh piala bergilir, piagam penghargaan, serta sejumlah hadiah hiburan.
Ketua Panitia Grand Trial, Imron Masruri, mengatakan kegiatan tersebut menjadi tolok ukur untuk melihat perkembangan peserta setelah menjalani latihan selama tiga bulan.
“Grand Trial ini menjadi barometer untuk melihat sejauh mana perkembangan anak-anak setelah latihan. Karena kegiatan ini kami adakan setiap tiga bulan sekali,” ujar Imron.
Latihan rutin sendiri digelar setiap Sabtu dan Minggu. Saat ini, sekitar 60 anak tercatat aktif mengikuti latihan secara rutin.
Anak Didorong Menyenangi Panahan
Menurut Imron, pembinaan tidak hanya diarahkan untuk mengejar prestasi. Anak-anak terlebih dahulu didorong agar memiliki ketertarikan terhadap olahraga panahan.
Karena itu, suasana latihan dibuat menyenangkan dan tidak terlalu menonjolkan persaingan.
“Kami ingin anak-anak senang terlebih dahulu dengan olahraga ini. Setelah mereka tertarik dan mengenal panahan, baru kami arahkan untuk lebih serius,” katanya.
Bagi peserta yang baru mengenal panahan, klub menyediakan peralatan selama masa latihan awal. Setelah mengikuti sekitar delapan kali latihan dan mulai serius menekuni olahraga tersebut, peserta dapat menggunakan peralatan pribadi sesuai kebutuhan.
Imron menjelaskan, penggunaan peralatan pribadi diperlukan untuk membangun kecocokan antara pemanah dan busur yang digunakan.
“Seperti pemain bulu tangkis yang terbiasa dengan raketnya sendiri. Dalam panahan juga demikian, setiap anak nantinya perlu menyesuaikan diri dengan alat yang digunakan,” jelasnya.
Berkembang Sejak 2023
Pembinaan panahan di Musholla Baitul Mukminin mulai berkembang secara intensif sejak 2023. Saat awal berjalan, latihan tersebut hanya diikuti sekitar enam anak.
Seiring waktu, jumlah peserta terus bertambah. Salah satu upaya memperkenalkan panahan kepada anak-anak dilakukan melalui kegiatan Fun Archery saat masa liburan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, puluhan anak mengikuti latihan setiap hari selama masa liburan.
“Pada kegiatan liburan kemarin, sekitar 50 anak mengikuti Fun Archery. Setelah liburan selesai, anak-anak yang ingin melanjutkan latihan kami tampung di klub Warrior Bali Archery,” ujar Imron.
Warrior Bali Archery saat ini didukung lima pelatih yang membina peserta melalui latihan rutin setiap akhir pekan.
Kegiatan latihan juga terbuka bagi masyarakat umum. Peserta tidak hanya berasal dari lingkungan Musholla Baitul Mukminin, tetapi juga dari sejumlah sekolah lain.
“Selain anak-anak dari lingkungan sini, ada juga dari sekolah lain yang menggunakan fasilitas latihan di sini. Untuk masyarakat umum yang ingin bergabung atau sekadar mencoba latihan, kami juga terbuka,” katanya.
Panahan Melatih Fokus dan Disiplin
Imron menilai olahraga panahan memiliki manfaat yang lebih luas bagi perkembangan anak. Selain kemampuan fisik, olahraga ini juga dapat melatih konsentrasi, fokus, ketenangan, dan kedisiplinan.
“Harapan kami, anak-anak yang aktif di olahraga panahan tidak hanya mendapatkan manfaat secara olahraga, tetapi juga dapat meningkatkan konsentrasi dan fokus mereka,” ungkapnya.
Menurutnya, prestasi di bidang panahan juga dapat menjadi salah satu pendukung bagi anak yang ingin melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.
Pada tahun ajaran sebelumnya, terdapat dua atlet panahan binaan yang berhasil melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi olahraga.
“Prestasi dari panahan ini bisa menjadi salah satu pendukung untuk pendidikan. Tahun ajaran kemarin ada dua anak yang melanjutkan sekolah melalui jalur prestasi dari olahraga panahan,” ujarnya.
Berpeluang ke Kompetisi Lebih Tinggi
Pembinaan tidak berhenti pada kompetisi tingkat lokal. Atlet yang memiliki kemampuan dan memenuhi persyaratan pertandingan berpeluang diarahkan mengikuti kompetisi di tingkat daerah, provinsi, nasional hingga internasional.
“Kalau ada atlet yang memiliki kemampuan dan sudah memenuhi persyaratan kategori pertandingan, tentu bisa kami arahkan untuk mengikuti event yang lebih tinggi, termasuk kompetisi internasional,” katanya.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal olahraga panahan, Warrior Bali Archery juga membuka kesempatan untuk mengikuti latihan. Peralatan tersedia bagi peserta pemula yang baru mencoba.
Sementara bagi anggota klub, latihan rutin dikenakan biaya Rp150 ribu per bulan. Dana tersebut digunakan untuk mendukung operasional, perawatan, serta pengadaan perlengkapan latihan.
Imron menambahkan, kebutuhan peralatan pribadi setiap peserta nantinya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
“Untuk alat pribadi nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, karena kemampuan dan kebutuhan setiap anak berbeda,” pungkas Imron. (bsw)
