Gubernur Bali Wayan Koster memulai pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani melalui Upacara Adat Ngeruak dan ground breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Rabu (7/1/2026). (dok.istimewa)
REALITASBALI | Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster memulai pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani melalui Upacara Adat Ngeruak dan ground breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Rabu (7/1/2026).
Pembangunan Shortcut Titik 9 dan 10 Paket 1, 2, dan 3 menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan sekaligus meningkatkan keselamatan jalur pegunungan.
Dalam sambutannya, Koster menegaskan percepatan proyek shortcut menjadi prioritas sejak dirinya dilantik kembali pada 20 Februari 2025. Ia langsung berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan kelanjutan pembangunan hingga Titik 12.
“Shortcut ini kebutuhan mendesak untuk transportasi penumpang dan logistik Bali Utara–Selatan,” ujar Koster.
Ia menegaskan peran Pemprov Bali fokus pada pengawalan tahapan proyek dan percepatan pembebasan lahan agar pekerjaan tidak tersendat.
Pemprov Bali Percepat Pembebasan Lahan
Untuk tahap lanjutan, Pemprov Bali akan mempercepat pembebasan lahan Titik 11 dan 12 yang memiliki medan paling berat. Koster menargetkan konstruksi dimulai akhir 2027 atau awal 2028 dan rampung sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.
“Saya ingin minimal sampai Titik 12 selesai sebelum 2030,” tegasnya.
Menurut Koster, infrastruktur jalan menjadi kunci menjaga keberlanjutan Bali sebagai destinasi wisata dunia. Ia menyebut kontribusi pariwisata Bali mencapai 66 persen dengan jumlah kunjungan wisatawan tahun 2025 sebesar 7,05 juta orang.
“Masalah macet tidak bisa diselesaikan dengan ceramah. Ini soal jalan dan transportasi,” ujarnya.
Koster Pinta Kontraktor Jaga Kualitas Pekerjaan
Ia juga meminta kontraktor menjaga kualitas dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Sementara itu, Direktur Pembangunan Jalan Ditjen Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menjelaskan panjang penanganan Titik 9 dan 10 mencapai 3,90 kilometer, terdiri dari 2,95 km jalan dan 942 meter jembatan.
Paket 1 memiliki nilai kontrak Rp290,84 miliar dengan masa kerja 750 hari kalender, meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93 km dan tiga jembatan sepanjang 593 meter yang dikerjakan Waskita–Sinarbali KSO melalui pendanaan SBSN 2025–2027.
Lingkup pekerjaan Paket 2 meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,88 km dan dua jembatan sepanjang 220 meter dengan nilai anggaran Rp187 miliar.
Sedangkan Paket 3 mencakup pembangunan jalan sepanjang 1.146,5 meter dan jembatan sepanjang 128,5 meter dengan kebutuhan anggaran Rp189,7 miliar.
Menurut Asep, kondisi jalan eksisting memiliki kelandaian hingga 27 persen dan mencatat sekitar 140 kecelakaan per tahun dengan 16 korban meninggal. Shortcut ini akan menurunkan kelandaian maksimal menjadi 10 persen dan memangkas waktu tempuh dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit.
Pemprov Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar untuk mendukung proyek shortcut. Untuk penuntasan seluruh ruas Singaraja–Mengwitani masih dibutuhkan pembangunan lanjutan di beberapa titik dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp512 miliar.
Shortcut Singaraja–Mengwitani diharapkan menjadi solusi permanen konektivitas Bali Utara–Selatan sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
