Salah satu warga yang memiliki UMKM Pemindangan Kusamba dan menerima Modal KUR (Kredit Usaha Rakyat) BRI. (dok.istimewa)
REALITASBALI | Klungkung – Aktivitas di Sentra Pemindangan Kusamba, Kabupaten Klungkung, masih menjadi denyut ekonomi masyarakat pesisir. Dukungan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) ikut mendorong perkembangan usaha, meningkatkan kapasitas produksi, hingga memperluas lini usaha pelaku UMKM setempat.
Salah satu pelaku usaha pemindangan di kawasan tersebut, Ni Wayan Suitari (42), kini mampu mengolah rata-rata hingga 300 keranjang ikan setiap hari. Tambahan modal yang diperoleh dimanfaatkan untuk memperkuat operasional usaha, termasuk mengembangkan penjualan keranjang ikan dan garam.
Proses pemindangan di Kusamba dimulai sejak pagi. Aktivitas perebusan berlangsung terus menerus dengan waktu sekitar 15 menit untuk setiap proses angkat rebusan.
“Kalau sudah panas, perebusan sekitar 15 menit sekali angkat. Mulai jam tujuh pagi, biasanya jam sebelas sudah diambil pembeli,” ujar Suitari, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, jumlah produksi sangat bergantung pada pasokan ikan dan kebutuhan pasar. Dalam kondisi tertentu, produksi bisa meningkat melebihi angka rata-rata harian.
Pasokan ikan selama ini berasal dari beberapa daerah seperti Negara, Karangasem, hingga kiriman dari Pulau Jawa. Pasokan luar daerah kerap menjadi penyangga saat hasil tangkapan ikan lokal menurun.
“Kalau musim ikan kurang biasanya pertengahan tahun atau akhir tahun. Kadang ikan dari Jawa juga susah,” katanya.
Modal Usaha Bertambah, Operasional Meningkat
Suitari mengaku telah menjadi nasabah BRI selama lebih dari satu dekade. Selama itu, dirinya dua kali memperoleh pinjaman dengan nilai mencapai Rp100 juta.
Dana tersebut awalnya digunakan untuk menjalankan usaha penjualan keranjang ikan. Seiring perkembangan usaha, modal kemudian dialihkan untuk mendukung aktivitas pemindangan serta penjualan garam.
“Awalnya untuk jual keranjang dulu. Setelah berkembang baru jual garam dan bantu modal usaha pindang,” ujarnya.
Menurut Suitari, akses pembiayaan melalui KUR cukup membantu usaha kecil karena proses pencairannya dinilai cepat dengan persyaratan yang relatif mudah. Meski demikian, pihak bank tetap melakukan pemantauan usaha nasabah secara berkala.
“Cepat cair dan mudah, tapi pihak bank sering datang mengecek usaha juga,” katanya.
Dalam aktivitas sehari-hari, pembeli biasanya membawa ikan mentah untuk diproses di lokasi pemindangan. Pendapatan pelaku usaha berasal dari biaya jasa perebusan, penjualan garam, serta penjualan keranjang.
Biaya Produksi Masih Jadi Tantangan
Di tengah peningkatan usaha, biaya operasional tetap menjadi tantangan. Salah satu pengeluaran terbesar berasal dari kebutuhan garam untuk proses pengolahan.
Suitari memilih menggunakan garam asal Bima, Nusa Tenggara Barat, karena dianggap lebih sesuai untuk proses pemindangan.
“Garam Bima lebih kasar dan lebih asin,” ujarnya.
Harga garam Bima saat ini sekitar Rp200 ribu per 50 kilogram. Sementara penggunaan garam lokal untuk produksi 400 keranjang dapat menghabiskan sekitar 75 kilogram dengan biaya mencapai Rp500 ribu.
Selain garam, kebutuhan alat produksi juga cukup besar. Satu kompor berkapasitas besar diperkirakan mencapai Rp1 juta, belum termasuk tungku dan perlengkapan pendukung lainnya.
Meski biaya produksi meningkat, aktivitas pemindangan di Kusamba masih berjalan hampir setiap hari dan tetap menyerap tenaga kerja harian. Sentra ini selama ini menjadi salah satu pemasok ikan pindang bagi pasar tradisional di Bali.
“Kami libur sendiri kalau memang tidak ada produksi atau ada acara,” ujar Suitari.
Terpisah, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan dukungan pembiayaan melalui KUR merupakan upaya memperkuat sektor UMKM, termasuk usaha pemindangan yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
“Melalui penyaluran KUR, kami berharap para pelaku usaha dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
BRI juga mendorong pelaku UMKM meningkatkan literasi keuangan dan pemanfaatan layanan digital guna mendukung efisiensi usaha. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem usaha kecil di Bali dan Nusa Tenggara.
