Foto bersama narasumber dan peserta pelatihan peningkatan kapasitas jurnalistik bertajuk “Pemanfaatan Akal Imitasi (AI) untuk Cek Fakta Menjaga Kepercayaan Publik” yang digelar Radar Bali di Quest Hotel, Denpasar, Sabtu (5/9/2026). (dok: istimewa)
RealitasBali | DENPASAR – Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di ruang redaksi tidak semestinya dilihat sebagai ancaman yang membuat wartawan dari satu generasi harus menggantikan generasi lainnya.
Justru, di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, perbedaan kemampuan antara wartawan muda dan senior dapat menjadi kekuatan apabila dipertemukan dalam satu ruang redaksi.
Pandangan tersebut mengemuka dalam pelatihan peningkatan kapasitas jurnalistik bertajuk “Pemanfaatan Akal Imitasi untuk Cek Fakta Menjaga Kepercayaan Publik” yang digelar Radar Bali di Quest Hotel, Denpasar, Sabtu (5/9/2026).
Pelatihan yang diikuti jurnalis dari berbagai platform media, mulai dari cetak, online, televisi hingga radio, menjadi ruang untuk membahas bagaimana perubahan teknologi turut mengubah pola kerja insan pers.
Generasi Muda Membawa Kecepatan Teknologi
Perkembangan AI membuat kemampuan memahami teknologi menjadi semakin penting bagi wartawan.
Generasi muda yang tumbuh bersama ekosistem digital memiliki kedekatan lebih besar dengan media sosial, berbagai perangkat digital, serta beragam tools yang dapat membantu pekerjaan jurnalistik.
Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses pencarian data, mengolah informasi, melakukan transkripsi, hingga membantu proses pengecekan bahan pemberitaan.
Namun, kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis membuat sebuah karya menjadi jurnalistik.
Kecepatan mengolah informasi tetap harus dibarengi kemampuan memahami konteks, menentukan nilai berita, memeriksa sumber, dan memastikan informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah pengalaman wartawan senior tetap memiliki posisi penting.
Pengalaman Senior Tak Bisa Digantikan Mesin
Jam terbang menjadi salah satu modal yang tidak dapat diperoleh hanya dengan menguasai teknologi.
Wartawan senior umumnya telah melewati berbagai situasi di lapangan, menghadapi narasumber dengan karakter berbeda, memahami dinamika pemberitaan, serta mengetahui konsekuensi dari informasi yang dipublikasikan.
Pengalaman tersebut membentuk apa yang kerap disebut sebagai naluri jurnalistik.
Naluri untuk mempertanyakan informasi yang terasa janggal, membaca situasi, melihat kepentingan di balik sebuah pernyataan, hingga mengetahui kapan sebuah informasi masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Kemampuan seperti itu menjadi semakin penting ketika AI mampu menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi tidak selalu benar.
Artinya, tantangan ke depan bukan memilih antara wartawan muda atau wartawan senior.
Yang dibutuhkan justru bagaimana keduanya dapat saling melengkapi.
AI Jangan Membuat Redaksi Kehilangan Manusia
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja, sebelumnya mengingatkan bahwa penggunaan AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pengendali utama karya jurnalistik.
“Jurnalis tidak boleh menjadi budak mesin. Karena satu karya jurnalistik bersinggungan dengan banyak rezim hukum, maka kita harus berhati-hati. Jika tanpa pengetahuan yang cukup, pasti kita tidak siap menghadapinya,” terang Edo.
Pernyataan tersebut menjadi penting dalam melihat hubungan antara generasi wartawan dan teknologi.
AI seharusnya tidak membuat wartawan berlomba menunjukkan siapa yang paling cepat menghasilkan tulisan. Sebaliknya, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat bantu, sementara keputusan jurnalistik tetap berada di tangan manusia.
Dengan demikian, wartawan muda tidak perlu diposisikan sebagai pengganti wartawan senior, begitu pula pengalaman wartawan senior tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan teknologi baru.
Keduanya memiliki modal yang berbeda.
Bertukar Kemampuan di Ruang Redaksi
Kolaborasi lintas generasi dapat menjadi salah satu cara media menjaga kualitas karya jurnalistik di tengah disrupsi teknologi.
Wartawan muda dapat membantu memperkenalkan cara kerja teknologi baru kepada rekan yang lebih senior. Sebaliknya, wartawan senior dapat mentransfer pengalaman mengenai etika, verifikasi, wawasan lapangan, serta bagaimana mengambil keputusan jurnalistik ketika berhadapan dengan informasi yang belum jelas.
Hubungan tersebut bukan sekadar proses belajar satu arah.
Wartawan muda membutuhkan pengalaman. Wartawan senior juga perlu terus beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Ketika keduanya bertemu, ruang redaksi tidak hanya menjadi tempat memproduksi berita, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan.
Tantangan Datang dari Media Sosial
Wakil Direktur Jawa Pos Radar Bali, Ibnu Yunianto, mengatakan perubahan ekosistem informasi juga membuat wartawan harus semakin cermat dalam memilih bahan pemberitaan.
Media sosial kini menjadi salah satu sumber utama bagi wartawan dalam menemukan informasi awal.
Ibnu memaparkan sejumlah riset yang menunjukkan persentase wartawan yang menggunakan media sosial sebagai bahan awal pemberitaan cukup tinggi di sejumlah kawasan, mulai dari 62 persen, 72 persen hingga 94 persen. Sementara sekitar 15 persen merujuk pada artikel media cetak sebagai bahan awal.
Tingginya penggunaan media sosial menunjukkan bahwa wartawan tidak lagi bekerja dalam ekosistem informasi yang sepenuhnya dikendalikan oleh media.
Informasi dapat muncul dari masyarakat terlebih dahulu, kemudian masuk ke radar redaksi dan memengaruhi agenda pemberitaan. Fenomena tersebut dikenal sebagai reverse agenda setting.
Kondisi ini membuat kemampuan teknologi dan pengalaman jurnalistik sama-sama dibutuhkan.
Teknologi membantu wartawan bergerak cepat menghadapi derasnya informasi. Sementara pengalaman dan naluri jurnalistik membantu menentukan informasi mana yang layak dipercaya dan diberitakan.
Kecepatan dan Ketelitian Harus Berjalan Bersama
Ketika AI mampu menghasilkan teks, merangkum dokumen, mengolah data, bahkan membantu menganalisis informasi dalam waktu singkat, tantangan wartawan bukan lagi sekadar menghasilkan berita.
Tantangannya adalah memastikan berita tersebut benar, relevan, memiliki konteks, dan memiliki nilai jurnalistik.
Karena itu, generasi muda dan senior tidak seharusnya ditempatkan dalam posisi saling berkompetisi untuk menggantikan satu sama lain.
Generasi muda membawa energi, kecepatan, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Generasi senior membawa pengalaman, ketelitian, dan naluri jurnalistik yang terbentuk dari perjalanan panjang di lapangan.
Jika kedua kekuatan tersebut dipertemukan, AI justru dapat menjadi alat untuk memperkuat kerja jurnalistik, bukan menghilangkan manusia dari dalamnya.
Redaksi Masa Depan Tetap Membutuhkan Manusia
Ketua Panitia sekaligus Pemimpin Redaksi radarbali.id, Muhammad Ridwan, mengatakan adaptasi dan transformasi merupakan bagian penting dalam perjalanan insan pers menghadapi perubahan zaman.
“Seperti di Tiongkok yang sudah menggunakan AI, tapi tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada teknologi tersebut. Kalau bicara ilmu jurnalistik, baik tingkat dasar maupun lanjutan, intinya adalah bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan zaman dari era konvensional, digital, hingga AI saat ini,” jelas Ridwan, usai acara pelatihan.
Ridwan berharap pelatihan serupa ke depan dapat diperluas dengan melibatkan peserta yang lebih beragam, tidak hanya wartawan lapangan, tetapi juga jajaran editor redaksi.
Harapan tersebut menjadi relevan karena transformasi AI tidak hanya terjadi di meja wartawan. Perubahan juga akan memengaruhi bagaimana editor memeriksa, mengolah, dan menentukan kelayakan sebuah karya jurnalistik sebelum diterbitkan.
Pada akhirnya, masa depan ruang redaksi bukan tentang siapa yang lebih unggul antara manusia dan mesin.
Begitu pula bukan tentang siapa yang lebih dibutuhkan antara wartawan muda dan senior.
Yang dibutuhkan adalah redaksi yang mampu menggabungkan kecepatan teknologi dengan kedalaman pengalaman.
AI dapat membantu menyalakan lampu. Namun, manusia tetap harus menentukan ke mana cahaya itu diarahkan.
Dan dalam perjalanan jurnalistik, lentera tersebut akan jauh lebih kuat ketika dibawa bersama oleh mereka yang memahami teknologi dan mereka yang telah lama memahami jalan. (rka)
