I Nyoman Miasa, pengusaha pembibitan ikan lele di Badung. (dok: bri)
Realitas Bali | BADUNG – Dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu faktor yang membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengembangkan usahanya. Salah satu contohnya datang dari Badung. Berkat tambahan modal KUR BRI, usaha pembibitan lele milik I Nyoman Miasa kini mampu memproduksi hingga 360 ribu bibit dalam satu siklus.
I Nyoman Miasa (35) merupakan pelaku usaha asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Badung. Ia mulai merintis usaha pembibitan lele pada 2017 dengan modal pribadi sekitar Rp17 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun kolam terpal dan membudidayakan lele jenis Sangkuriang.
Sejak awal, Miasa memilih fokus pada usaha pembibitan. Sebab, masa produksinya lebih singkat dibanding pembesaran ikan. Selain itu, permintaan bibit dari para pembudidaya juga relatif stabil.
Produksi Meningkat dan Pasar Semakin Luas
Pada awal usaha, pemasaran bibit lele masih terbatas di sekitar Badung. Namun, kualitas produksi yang terus meningkat membuat jumlah pelanggan ikut bertambah. Kini, bibit lele hasil budidayanya dipasarkan ke Gianyar, Klungkung, Tabanan, hingga Singaraja.
Dalam satu siklus produksi, Miasa mampu menghasilkan sekitar 360 ribu ekor bibit lele. Bibit tersebut dipasarkan saat berukuran 4 hingga 9 sentimeter. Selanjutnya, bibit dibesarkan oleh para pembudidaya hingga siap konsumsi.
Di balik tingginya produksi, kebutuhan modal juga tidak sedikit. Pada fase awal, benih harus diberi pakan cacing sutra selama 15 hingga 20 hari. Setelah itu, pakan diganti menggunakan pelet.
Dalam satu siklus, biaya cacing sutra mencapai sekitar Rp88,7 juta. Sementara itu, kebutuhan pelet mencapai sekitar Rp15,3 juta. Di sisi lain, kualitas air kolam juga harus dijaga. Air sumur digunakan sebagai sumber utama dan air kolam diganti secara berkala agar benih tetap sehat.
KUR BRI Bantu Perkuat Modal Kerja
Meningkatnya permintaan membuat kebutuhan modal usaha ikut bertambah. Karena itu, Miasa memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Awalnya, ia memperoleh plafon pinjaman Rp25 juta. Seiring berkembangnya usaha, nilai pembiayaan tersebut meningkat menjadi Rp100 juta.
Tambahan modal dimanfaatkan untuk membeli pakan, merawat kolam, dan menjaga kelancaran produksi. Dengan demikian, kebutuhan pelanggan di berbagai daerah tetap dapat dipenuhi.
“Kebutuhan modal di usaha pembibitan memang cukup besar, terutama untuk pakan karena itu yang paling banyak menyerap biaya. Dengan adanya KUR BRI, saya lebih terbantu untuk menambah modal kerja sehingga produksi bisa terus berjalan dan permintaan pelanggan tetap bisa kami penuhi. Dari awal pinjam Rp25 juta sampai sekarang plafonnya meningkat menjadi Rp100 juta karena usaha juga terus berkembang,” ujar Miasa.
Ia berharap usahanya terus berkembang. Selain meningkatkan produksi, ia juga ingin memperluas pemasaran bibit lele ke lebih banyak wilayah di Bali.
BRI Dorong UMKM Produktif Tumbuh Berkelanjutan
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya mengatakan KUR menjadi salah satu akses pembiayaan bagi UMKM produktif. Menurutnya, tambahan modal dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas usahanya.
“KUR BRI hadir untuk memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospektif. Kami berharap pembiayaan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperluas kesempatan usaha sehingga UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Hery.
Ia menambahkan sektor perikanan budidaya memiliki potensi besar. Pasalnya, sektor ini mendukung rantai pasok pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“BRI akan terus mendorong penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif agar semakin banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan skala usahanya, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Hery. (bsw)
