Gubernur Bali Wayan Koster. (Dok. Istimewa)
RealitasBali | BADUNG – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pembangunan Bali harus tetap menjaga keseimbangan antara pariwisata, budaya, lingkungan, dan ketahanan energi. Hal itu disampaikan saat membuka The SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition (APDT) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Rabu (5/8/2026).
Konferensi teknologi pengeboran tingkat Asia Pasifik tersebut dihadiri sekitar 800 peserta dari 39 negara. Koster menyambut kedatangan para delegasi sekaligus mengapresiasi dipilihnya Bali sebagai lokasi penyelenggaraan forum internasional tersebut.
“Selamat datang di Bali, pulau yang indah, masyarakatnya ramah, serta memiliki budaya yang unik dan tidak dimiliki daerah lain di dunia,” ujar Koster.
Menurutnya, kekuatan Bali tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada budaya, tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokal yang masih dijaga masyarakat.
Koster mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Bali mampu berkembang sebagai destinasi pariwisata kelas dunia tanpa kehilangan identitasnya.
Soroti Kualitas Lingkungan
Namun, di tengah ketergantungan Bali terhadap sektor pariwisata, Koster mengingatkan pentingnya menjaga alam dan kualitas lingkungan. Apalagi, sektor pariwisata menjadi penopang utama perekonomian Bali.
Ia menyebutkan, sepanjang 2025 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui jalur udara ke Bali mencapai lebih dari tujuh juta orang. Angka itu belum termasuk wisatawan yang datang melalui jalur laut maupun darat.
Dari total lebih dari 15 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, sekitar 49 persen memilih Bali sebagai destinasi.
“Berdasarkan perhitungan kami, belanja wisatawan mancanegara menghasilkan devisa sekitar Rp176 triliun. Artinya, kontribusi Bali terhadap devisa pariwisata Indonesia mencapai sekitar 55 persen,” jelasnya.
Besarnya kontribusi tersebut membuat Bali memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan kualitas destinasi. Koster menegaskan alam, manusia, dan budaya menjadi tiga fondasi yang tidak boleh dipisahkan dalam pembangunan Bali.
“Karena Bali sangat bergantung pada pariwisata, maka Bali harus dijaga. Alamnya harus lestari, manusianya harus berkualitas, dan budayanya harus tetap hidup,” tegasnya.
Dorong Percepatan Transformasi Digital
Di sektor energi, Pemprov Bali juga mendorong percepatan transformasi menuju energi bersih. Salah satunya melalui kebijakan penghentian pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil serta mendorong penggunaan kendaraan bermotor berbasis baterai.
“Kami ingin Bali menjadi provinsi yang ramah lingkungan dan menjadi contoh pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Meski mendorong energi bersih, Koster mengingatkan bahwa kebutuhan energi tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan. Energi, kata dia, merupakan kebutuhan dasar masyarakat bersama pangan dan air.
Karena itu, ia berharap APDT 2026 tidak sekadar menjadi forum teknologi pengeboran, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi untuk menjawab tantangan kebutuhan energi dunia secara berkelanjutan.
“Saya berharap konferensi ini dapat melahirkan berbagai inovasi dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan energi dunia secara berkelanjutan,” katanya.
Di sisi lain, Secretary-in-Charge ASEAN Council on Petroleum & Energy (ASCOPE) Henricus Herwin menilai kolaborasi antarnegara ASEAN semakin penting untuk memperkuat ketahanan energi kawasan di tengah perubahan menuju energi yang lebih bersih.
Menurutnya, APDT menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan organisasi profesi dalam mendorong teknologi pengeboran yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
Sementara itu, President Dynamic Drilling sekaligus anggota IADC Executive Committee Manav Kumar Agarwal mengatakan industri pengeboran menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari efisiensi operasional dan keselamatan kerja hingga tuntutan pengurangan emisi karbon.
Deputy CEO PT Pertamina Hulu Energi Virano G. Nasution menambahkan, transformasi industri pengeboran menuju masa depan energi yang lebih efisien, cerdas, dan berkelanjutan membutuhkan inovasi teknologi, penguatan sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas negara.
Bagi Bali, Koster berharap penyelenggaraan APDT 2026 juga memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat posisi Pulau Dewata sebagai tuan rumah berbagai forum internasional.
“Kehadiran Anda juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Bali melalui meningkatnya tingkat hunian hotel, kegiatan usaha, dan sektor pariwisata,” kata Koster. (idr)
