Agus Made Yoga Iswara, Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) sekaligus Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata. (dok: Rahma)
RealitasBali | DENPASAR – Bali dinilai tengah berada dalam fase pembenahan untuk menjawab berbagai pekerjaan rumah di sektor pariwisata. Mulai dari tata kelola akomodasi, persoalan sampah, pungutan wisatawan asing (PWA), hingga tekanan akibat konsentrasi wisatawan di sejumlah destinasi.
Hal tersebut disampaikan Agus Made Yoga Iswara, Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) sekaligus Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata.
Menurut Yoga, berbagai persoalan tersebut memang belum seluruhnya terselesaikan. Namun, saat ini sudah mulai terlihat gerakan dan perencanaan untuk mengurai persoalan tersebut secara bertahap.
“Bali itu tidak diam, Bali itu sedang mengeram,” kata Yoga saat memberikan pandangan mengenai kondisi pariwisata Bali.
Pertumbuhan Wisatawan Harus Sejalan dengan Pembenahan
Pria yang merupakan GM Maca Villas & Spa Bali ini menilai keberhasilan pariwisata Bali tidak lagi cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Pertumbuhan kunjungan harus berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur dan daya dukung Bali.
“Jadi kita jangan hanya melihat pertumbuhan saja, habis 7 juta kita mau naik-naik-naik. Nah, akan lebih baik PR-PR ini berjalan atau diselesaikan seiring dengan pertumbuhan itu,” ujar dia.
Ia mencontohkan persoalan over tourism yang terjadi ketika pertumbuhan wisatawan tidak sebanding dengan kapasitas infrastruktur.
Kondisi tersebut kemudian memicu konsentrasi wisatawan di kawasan tertentu seperti Canggu, Uluwatu dan Nusa Penida.
Karena itu, menurut Yoga, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan dengan pembangunan infrastruktur serta penyelesaian berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Tata Kelola Akomodasi Mulai Menunjukkan Hasil
Salah satu pembenahan yang dinilai mulai menunjukkan perkembangan adalah tata kelola usaha akomodasi.
Yoga menyebut jumlah akomodasi resmi di Bali meningkat dari sekitar 12.000 properti pada 2024 menjadi sekitar 17.000 properti pada 2025.
Artinya, terdapat sekitar 5.000 usaha akomodasi yang sebelumnya belum tercatat resmi dan kemudian masuk dalam proses penataan.
Yoga mengatakan IHGMA turut membantu pemerintah melalui program Bali Kerthi Compliance yang mencakup 36 indikator, meliputi aspek perizinan, standarisasi dan keberlanjutan.
“Jadi PR-PR Bali sudah bisa diuraikan, bisa mulai dilakukan secara bertahap,” katanya.
Penyelesaian Persoalan Bisa Jadi Kekuatan Promosi
Menurut Yoga yang telah malang melintang 28 tahun di dunia pariwisata ini, Bali tidak harus menunggu seluruh persoalan selesai untuk kembali memperkuat citra pariwisatanya.
Justru proses pembenahan yang dilakukan secara kolektif dapat menjadi narasi positif bagi wisatawan.
Ia mencontohkan persoalan sampah. Sejumlah program, termasuk pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy, dinilai dapat menjadi bagian dari cerita baru Bali apabila berjalan sesuai rencana.
“Ketika stakeholder secara kolektif itu melakukan sebuah movement di dalam mengatasi masalah lingkungan, ini cerita yang luar biasa sekali untuk memperkuat destinasi Bali itu sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, Yoga juga melihat perkembangan kunjungan wisatawan pada 2026 mulai menunjukkan sinyal positif.
Pada periode Januari-Juli 2026, wisatawan mancanegara ke Bali tercatat sebanyak 3.944.415 kunjungan, atau turun 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara wisatawan nusantara mencapai 5.905.120 atau tumbuh 1,3 persen.
Jika digabungkan, pertumbuhan kunjungan wisatawan Bali berada di angka positif 0,4 persen.
Menurut Yoga, angka tersebut menunjukkan respons pasar terhadap Bali mulai membaik setelah sempat terdampak situasi geopolitik pada Februari-Maret 2026.
Namun, ia menegaskan pertumbuhan kunjungan tidak boleh membuat berbagai pekerjaan rumah Bali kembali terabaikan.
“Fokusnya kita kepada penyelesaian permasalahan,” tegasnya.
Karena itu, ungkapan “Bali tidak diam, Bali sedang mengeram” menjadi gambaran bahwa berbagai pembenahan saat ini tengah berlangsung, meski hasil akhirnya belum seluruhnya terlihat.
Yoga menilai, ketika pembenahan tersebut berjalan konsisten dan melibatkan seluruh stakeholder, Bali bukan hanya mampu mempertahankan daya tarik wisatanya, tetapi juga membangun fondasi pariwisata yang lebih berkelanjutan. (rka)
