Bedah buku Seabad Relokasi Batur terbitan Mahima Institute Indonesia (2025) dalam Program Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 di Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (24/7/2026). (dok: istimewa)
Realitas Bali | DENPASAR – Buku Seabad Relokasi Batur terbitan Mahima Institute Indonesia (2025) dinilai menjadi dokumentasi penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Batur. Buku tersebut merekam perjalanan sejarah Rarud Batur atau pengungsian akibat letusan Gunung Batur pada 1926.
Karya yang menghimpun 32 tulisan itu dibahas dalam Program Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 di Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (24/7/2026). Selama diskusi berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan.
Menggambarkan Ketangguhan Masyarakat Batur
Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Heri Purwanto, S.S., M.Ag., menjadi pembedah buku tersebut. Menurutnya, karya yang disusun secara swadaya oleh komunitas Lingkar Studi Batur itu berhasil menggambarkan perjalanan sejarah sekaligus ketangguhan masyarakat Batur dalam menghadapi perubahan.
“Buku ini mengajak kita menyelami lorong waktu sejarah dengan memahami kebudayaan Batur dari masa lalu, membaca keadaan saat ini, dan berefleksi untuk masa depan. Buku ini adalah sebuah wadah tentang bagaimana ingatan kolektif Batur dijaga, khususnya berkaitan dengan peristiwa sejarah Rarud Batur, yakni pengungsian akibat letusan Gunung Batur tahun 1926. Buku ini bisa jadi catatan historiografi yang penting untuk memahami peristiwa itu,” katanya.
Selanjutnya, Heri menyebut buku tersebut memiliki tiga benang merah utama. Pertama, kebertahanan masyarakat setelah relokasi. Kedua, kemampuan beradaptasi di lingkungan baru. Selain itu, buku ini juga menyoroti kekhawatiran terhadap masa depan kawasan Batur.
“Kebertahan itu terkait dari bagaimana masyarakat Batur bertahan setelah relokasi. Adaptasi memuat tentang bagaimana kehidupan sosial budaya kemudian diadaptasi oleh masyarakat yang hidup di ruang baru. Sementara itu, kekhawatiran terhadap Batur ini tercermin pada tulisan-tulisan yang menyuarakan masa depan Batur seperti ancaman degradasi lingkungan, potensi pemanfaatan ruang, hilangnya nilai-nilai dan warisan budaya. Dalam penyajiam tema-tema ini, editor sangat baik meramunya, sehingga wacana dari para penulis yang berasal dari kalangan lokal, nasional, dan internasional itu bisa terhubung,” katanya.
Soroti Aspek Teologi Batur
Di sisi lain, Heri menilai masih ada ruang pengembangan dalam buku tersebut. Menurutnya, aspek teologi masyarakat Batur belum tergambar secara utuh. Padahal, unsur tersebut memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Buku ini tak menyentuh aspek teologis, padahal kita tahu masyarakat Batur dengan agama itu sangat erat. Mereka percaya atas Gunung Batur. Gunung Batur tidak bisa dipisahkan, Dewi Danuh, hubungan masyrakat dan danau. Ini yang belum tampak pada buku ini,” kata dia.
Karena itu, ia berharap ke depan lahir kajian akademik yang lebih mendalam mengenai teologi Batur. Kajian tersebut, menurutnya, dapat mengulas konsep Parwata Rajadewa dan tradisi pemujaan gunung dalam khazanah Nusantara.
Kolaborasi 32 Penulis
Sementara itu, penyunting buku, Jero Penyarikan Duuran Batur I K. Eriadi Ariana, mengatakan buku tersebut merupakan hasil kolaborasi yang menghimpun 32 tulisan dari berbagai kalangan.
“Awalnya memang diupayakan sebagai ruang mencatat Batur, dengan berefleksi pada peristiwa 100 tahun Rarud Batur itu. Setelah tulisan terkumpul, kami pun kaget ketika banyak data yang muncul. Data-data yang dikumpulkan oleh penulis yang tidak saja dari Batur, tetapi juga beberapa desa yang terkait Batur, para intelektual nasional, hingga peneliti dari luar negeri. Semoga kehadiran buku ini dapat memberikan inspirasi untuk kajian Batur selanjutnya,” katanya.
Menurut Eriadi, kehadiran buku ini diharapkan menjadi pijakan bagi lahirnya penelitian lanjutan mengenai sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Batur. Selain itu, buku tersebut diharapkan mampu memperkuat pelestarian ingatan kolektif bagi generasi mendatang. (rka)
