Adi dan Sandy selaku Owner Next Shot Billiard & Bistro di Denpasar. (dok: Rahma)
DENPASAR, Realitas Bali – Denting bola biliar yang saling beradu berpadu dengan alunan musik dari seorang disc jockey (DJ) memecah suasana malam di NextShot Billiard & Bistro, Jalan Tukad Yeh Aya No.93, Denpasar, Sabtu malam. Menjelang pukul 23.00 WITA, hampir seluruh meja terisi pemain dari berbagai kalangan. Sebagian datang bersama teman, sebagian lagi tampak bermain sendiri sambil sesekali berbincang dengan kru yang mendampingi.
Di tengah ramainya aktivitas tersebut, pasangan suami istri sekaligus pemilik NextShot Billiard & Bistro, Adi Wijaya dan Sandy, menceritakan bagaimana tempat yang mereka bangun sejak 2024 itu lahir dari kegemaran sederhana bermain biliar bersama keluarga dan sahabat.
“Kami memang senang main biliar sejak lama. Setelah pandemi Covid-19 selesai, kami melihat di Bali saat itu belum banyak rumah biliar. Akhirnya kami memberanikan diri membuka NextShot pada 15 Mei 2024,” ujar Adi.
Namun, bukan sekadar membuka tempat bermain biliar, keduanya ingin menghadirkan suasana berbeda. Mereka mengusung konsep feel like home, sehingga siapa pun, termasuk pemula, tidak merasa canggung untuk datang.
“Kalau belum bisa main tidak masalah. Server kami akan mengajarkan. Datang sendiri pun tetap nyaman karena kami ingin semua orang merasa diterima di sini,” kata Sandy.
Menghapus Stigma Biliar sebagai Dunia Malam
Berbeda dengan citra rumah biliar pada masa lalu yang identik dengan dunia malam, NextShot justru berupaya membangun suasana yang lebih ramah bagi semua kalangan.
Konsep family friendly menjadi salah satu identitas utama. Tersedia pula ruang VIP bebas asap rokok sehingga keluarga yang membawa anak tetap dapat menikmati suasana dengan nyaman.
Menurut Adi, perubahan citra olahraga biliar kini memang mulai terasa.
“Kalau dulu biliar identik dengan hal-hal negatif. Sekarang sudah jauh berbeda. Biliar sudah menjadi lifestyle. Anak-anak sampai orang tua banyak yang bermain, bahkan banyak juga anak-anak yang sekarang menjadi atlet,” jelasnya.
Ia menilai olahraga biliar memiliki peluang besar untuk melahirkan prestasi, sehingga tidak lagi layak dipandang sebelah mata.
Sandy menambahkan, pihaknya juga menerapkan aturan tegas dengan melarang segala bentuk perjudian di dalam area permainan.
“Kami ingin masyarakat tahu kalau biliar bisa menjadi tempat berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Bukan seperti stigma lama yang identik dengan dunia malam,” ujarnya.
Mengandalkan Pelayanan dan Meja Standar Internasional

Di atas lahan seluas sekitar 300 meter persegi, NextShot memiliki 11 meja biliar, terdiri dari ruang VIP smoking, VIP non-smoking, serta area permainan reguler.
Menurut Sandy, pelayanan menjadi pembeda utama dibanding tempat biliar lainnya.
“Kami mengutamakan service. Kru kami ramah dan selalu membantu customer supaya nyaman bermain di sini,” katanya.
Selain pelayanan, kualitas fasilitas juga menjadi perhatian. NextShot menggunakan meja bermerek Mr. Sung, yang umum digunakan dalam berbagai turnamen internasional, lengkap dengan kain laken berkualitas tinggi.
Untuk tarif, pengunjung cukup membayar mulai Rp40 ribu per jam pada malam hari. Sementara siang hari tersedia berbagai promo, termasuk paket bermain dua jam lengkap dengan dua gelas es teh manis seharga Rp70 ribu.
Khusus pelajar dan mahasiswa, tersedia promo bermain tiga jam dengan harga Rp70 ribu, cukup menunjukkan kartu identitas pelajar atau mahasiswa.
Turnamen Pemula Jadi Pintu Masuk Mengenalkan Biliar
Sejak berdiri, NextShot telah menggelar sekitar tujuh hingga delapan turnamen internal.
Berbeda dengan kompetisi profesional, turnamen tersebut justru menyasar pemain pemula dengan kategori Handicap (HC) 3A dan 3B.
Adi mengatakan konsep itu sengaja dipilih agar masyarakat yang baru belajar memiliki keberanian mengikuti kompetisi.
“Kami ingin mereka termotivasi untuk berkembang. Jadi bukan hanya pemain profesional yang bisa merasakan suasana turnamen,” ujarnya.
Selain turnamen, lantai dua juga kerap dimanfaatkan untuk acara komunitas, gathering kantor, karena memiliki tiga meja yang dapat disewakan secara privat. Ruangan VIP juga beberapa kali dijadikan tempat pesta ulang tahun.
“Anak usia tiga tahun pernah merayakan ulang tahun di sini karena orang tuanya memang sering bermain di NextShot,” cerita Sandy sambil tersenyum.
Biliar Berpotensi Mendukung Pariwisata Bali
Koordinator Aliansi Jurnalis Pariwisata Bali (AJIP Bali), Giostanovlatto, menilai perkembangan olahraga biliar di Bali menunjukkan tren positif. Menurutnya, semakin banyak anak muda mulai tertarik dan rumah-rumah biliar baru bermunculan.
Ia menilai konsep rumah biliar yang nyaman bagi keluarga menjadi langkah positif untuk menghilangkan stigma lama.
“Biliar tidak harus menyasar dunia malam. Sekarang bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak juga mulai menikmati olahraga ini,” ujarnya.
Menurutnya, potensi biliar juga bisa dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata olahraga (sport tourism).
“Pemerintah daerah seharusnya lebih banyak mengadakan event biliar. Cabang olahraga ini punya banyak penggemar dan bisa menjadi pintu masuk mendatangkan wisatawan ke Bali, terutama jika dibuat turnamen berskala internasional,” ungkap Giostanovlatto.
Di tengah semakin banyaknya rumah biliar bermunculan di Bali, Adi dan Sandy menyadari persaingan akan semakin ketat. Meski demikian, keduanya memilih tetap fokus pada pelayanan, kenyamanan, dan membangun komunitas pemain pemula.
Melalui konsep yang mereka usung, pasangan asal Surabaya ini berharap biliar semakin diterima sebagai olahraga yang dapat dinikmati semua kalangan tanpa lagi dibayangi stigma negatif, sekaligus menjadi ruang berkumpul yang hangat bagi keluarga maupun komunitas di Kota Denpasar.
