Gubernur Bali Wayan Koster saat rapat percepatan penanganan sampah di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Senin (9/3/2026). (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan dukungan terhadap komunitas pengemudi taksi online berbasis desa adat di kawasan Nusa Dua. Dukungan ini disampaikan saat menerima audiensi Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC) di Jayasabha, Denpasar, Minggu (8/3/2026).
Menurut Koster, pola transportasi yang melibatkan langsung krama desa adat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekonomi lokal di kawasan pariwisata. Model ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata dan pemberdayaan masyarakat setempat.
“Bagus sekali jika desa adat dan krama desa sendiri yang menjalankan layanan di wilayahnya. Saya tentu sangat mendukung,” ujar Koster.
Dorong Pemerataan Ekonomi Pariwisata
Koster tidak hanya mendukung, tetapi juga meminta Dinas Perhubungan Bali untuk mempercepat proses perizinan bagi pengemudi yang belum melengkapi legalitas operasional. Ia menilai keberadaan TNDC membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas layanan wisata.
“Ini ekonomi kerakyatan, memberdayakan warga lokal di Nusa Dua. Apalagi banyak driver yang bisa berbahasa Inggris, itu sudah sangat baik,” tambahnya.
Lebih jauh, Koster mendorong agar pola serupa diterapkan di destinasi lain seperti Ubud dan Sanur. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketimpangan manfaat pariwisata yang selama ini masih terpusat di beberapa wilayah.
“Kalau bisa dipolakan juga di desa-desa lain yang menjadi tujuan wisata seperti Ubud dan Sanur. Ini bagus sekali untuk pemerataan ekonomi,” katanya.
Komunitas Berbasis Adat dan Kearifan Lokal
Ketua TNDC, I Made Arta, menjelaskan bahwa komunitas tersebut beranggotakan sekitar 516 driver yang telah beroperasi sejak 2019. TNDC dibangun berbasis krama adat di Nusa Dua dengan dukungan legalitas serta wadah koperasi.
“Komunitas ini berbasis krama adat di Nusa Dua. Yang bisa mengambil penumpang di kawasan tersebut adalah krama adat setempat. Kami juga tidak memiliki masalah dengan pengemudi konvensional,” ujarnya.
Arta menegaskan, komunitasnya mengedepankan kearifan lokal dan nilai budaya Bali dalam operasional sehari-hari, termasuk prinsip Tri Hita Karana.
“Kami selalu menjaga etika, berpakaian rapi, bahkan pada hari-hari tertentu menggunakan pakaian adat Bali,” katanya.
Di sisi lain, Koster mengingatkan agar para driver tetap menjaga kerukunan dan profesionalitas dalam bekerja, khususnya dalam melayani wisatawan.
“Selalu jaga persatuan, rukun sesama saudara driver. Jangan bertengkar. Jaga sopan santun dan etika dalam menjalankan tugas,” tegasnya.
Kolaborasi antara pemerintah, desa adat, dan komunitas driver ini diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi pariwisata yang lebih tertib, berbudaya, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat Bali.
