Ni Nengah Kartini pengarjin Rumpun Bambu di Bangli. (dok: istimewa)
RealitasBali | BANGLI – Berawal dari modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp5 juta, Ni Nengah Kartini berhasil mengembangkan Rumpun Bambu Bangli menjadi usaha kerajinan yang melibatkan sekitar 30 tenaga kerja. Produk anyamannya kini merambah kebutuhan dekorasi vila dan hotel di Bali.
Keterampilan menganyam telah dipelajari Kartini sejak kecil dari kakek dan neneknya. Meski keterbatasan ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah sekolah dasar, keterampilan tersebut terus dikembangkan hingga menjadi sumber penghidupan keluarga.
“Saya awalnya pinjam modal di BRI Rp5 juta. Dari modal itu usaha terus saya putar,” kata Kartini.
Rumpun Bambu Bangli memproduksi beragam kerajinan berbahan bambu, mulai dari bakul dan tempat bumbu hingga produk dekorasi. Kartini juga mengembangkan anyaman tiga dimensi berukuran 1 x 2 meter serta produk dekorasi bernama Astra.
Anyaman Tiga Dimensi Jadi Andalan
Produk anyaman tiga dimensi kini menjadi salah satu andalan usahanya. Dalam sembilan bulan, produksinya mencapai sekitar 1.500 lembar. Permintaan datang dari sektor vila dan hotel, dengan salah satu pesanan mencapai sekitar 100 lembar per minggu.
Peningkatan permintaan turut mendorong penyerapan tenaga kerja. Jika awalnya hanya melibatkan enam anggota keluarga, kini sekitar 30 orang ikut mengerjakan produk anyaman tiga dimensi. Kartini bahkan mulai mengajak warga sekitar untuk belajar menganyam guna mendukung kapasitas produksi.
Saat pesanan berjalan, omzet usahanya disebut dapat melampaui Rp15 juta per bulan. Nilai aset produk yang dimiliki juga telah berkembang menjadi lebih dari Rp15 juta.
Perkembangan tersebut mengantarkan Kartini naik kelas dari nasabah KUR menjadi nasabah KUPRA BRI. Akses pembiayaan menjadi salah satu faktor pendukung bagi usahanya untuk memenuhi kebutuhan modal seiring meningkatnya permintaan pasar.
Pentingnya Dukungan Pembiayaan
Regional CEO BRI Region 17/Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan perkembangan usaha seperti Rumpun Bambu Bangli menunjukkan pentingnya dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.
Menurutnya, ketika usaha mikro mampu meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan membutuhkan tambahan modal, pembiayaan perlu disesuaikan dengan kapasitas serta perkembangan bisnisnya.
Kenaikan kelas nasabah, lanjut Hery, tidak hanya berkaitan dengan tambahan modal, tetapi juga kemampuan pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis. BRI mendorong pelaku UMKM yang berkembang agar memperoleh akses pembiayaan yang sesuai sehingga ekspansi usaha dapat dilakukan secara terukur.
Perjalanan Rumpun Bambu Bangli tidak selalu berjalan mulus. Saat pandemi Covid-19, pesanan dari hotel dan vila ikut terdampak. Kartini bertahan dengan memproduksi barang yang dapat dipasarkan langsung kepada konsumen, seperti bakul nasi dan tempat bumbu.
Buka Peluang Pasar Baru
Dari produk tersebut, peluang pasar baru mulai terbuka. Kartini kemudian menerima permintaan melalui jaringan arsitek hingga produknya digunakan sebagai dekorasi vila. Ia juga mengikuti pameran dan kegiatan yang difasilitasi pemerintah daerah untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Di sisi produksi, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Bambu perlu dikeringkan sebelum dianyam sehingga persediaan harus disiapkan lebih awal, terutama menjelang musim hujan. Untuk menjaga kelancaran produksi, Kartini rutin memantau ketersediaan bambu di sekitar Bangli dan melakukan pengadaan sebelum stok habis.
Kartini juga mendaftarkan hak cipta untuk sejumlah desain yang dikembangkan sendiri, termasuk produk abstrak dan anyaman tiga dimensi. Upaya tersebut dilakukan untuk melindungi karya yang menjadi ciri khas Rumpun Bambu Bangli.
Ke depan, Kartini ingin menjaga keberlanjutan kerajinan bambu melalui regenerasi perajin. Anak-anak muda yang berkunjung dari sekolah diajak belajar membuat kerajinan sederhana agar keterampilan menganyam tetap dikenal dan dapat menjadi alternatif pekerjaan.
“Kalau orang memberi pekerjaan kepada kita, kita harus mau belajar. Jangan menyerah dan jangan putus asa,” ujar Kartini. (bsw)
