Anak Agung Gede Dalem Pemayun, SH., M.A.P., CCMS., resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (UNHI). (dok: Rahma)
RealitasBali | DENPASAR – Anak Agung Gede Dalem Pemayun, SH., M.A.P., CCMS., resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Rabu (26/8/2026).
Tak sekadar meraih gelar akademik, Dalem Pemayun juga tercatat sebagai doktor ke-220 UNHI dan berhasil memperoleh predikat cumlaude.
Ujian promosi doktor tersebut berlangsung di Aula Lantai III Gedung Rektorat UNHI, Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur. Dalam sidang tersebut, Dalem Pemayun mempertahankan disertasi berjudul “Implementasi Sewaka Dharma dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan di Biddokkes Polda Bali.”
Disertasi itu mengangkat persoalan penerapan nilai Sewaka Dharma dalam pelayanan kesehatan di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Bali. Termasuk faktor yang membuat implementasinya belum optimal serta dampaknya terhadap pasien, keluarga pasien, kehidupan sosial dan budaya, hingga manajemen institusi.
Angkat Nilai Sewaka Dharma dalam Pelayanan
Penelitian Dalem Pemayun berangkat dari posisi Biddokkes Polda Bali sebagai institusi strategis yang menangani berbagai aspek medis dan kesehatan. Mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan pelayanan.
Dalam menjalankan tugasnya, nilai Sewaka Dharma menjadi salah satu landasan pelayanan. Namun, menurut hasil penelitian Dalem Pemayun, masih terdapat kesenjangan antara nilai yang diusung dengan praktik pelayanan di lapangan.
Sejumlah persoalan masih ditemukan, mulai dari pelayanan yang dinilai lambat, kurangnya empati, hingga persoalan administratif yang berpotensi memperpanjang waktu pelayanan.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan tiga pertanyaan utama dalam penelitian, yakni mengapa implementasi Sewaka Dharma belum optimal, bagaimana proses implementasinya, serta bagaimana implikasinya terhadap kehidupan sosial, budaya, perilaku pasien dan keluarganya, serta manajemen Biddokkes Polda Bali.
“Tujuan daripada penelitian di sini yaitu untuk mengeksplorasi implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian pelayanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali,” jelas Dalem Pemayun saat memaparkan hasil penelitiannya.
Empat Faktor Jadi Penghambat
Dalam pemaparannya, Dalem Pemayun mengungkap terdapat empat faktor utama yang menyebabkan implementasi Sewaka Dharma belum berjalan optimal.
Pertama adalah sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Jumlah personel yang tersedia dinilai belum sepenuhnya sebanding dengan beban kerja pelayanan.
Kedua, sosialisasi dan komunikasi mengenai nilai Sewaka Dharma masih perlu diperkuat. Ketiga, sarana dan prasarana penunjang pelayanan dinilai belum sepenuhnya memadai.
Sementara faktor keempat adalah motif yang melatarbelakangi individu dalam menjalankan tugas pelayanan.
Selain empat faktor tersebut, penelitian juga menemukan sejumlah hambatan lain, seperti koordinasi yang belum optimal, birokrasi yang masih berbelit, serta rendahnya literasi terhadap nilai-nilai budaya.
“Faktor penyebab belum optimalnya implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian pelayanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali, yakni dari sisi SDM, sosialisasi, kurangnya sarana dan prasarana, dan faktor motif itu sendiri,” ujarnya.
Pelayanan BPJS dan Literasi Digital Disorot
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam penelitian tersebut adalah mekanisme birokrasi pelayanan pasien yang berstatus peserta BPJS.
Dalem Pemayun menilai proses administratif tertentu masih membutuhkan waktu cukup panjang sehingga berpotensi menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan kesehatan secara cepat.
“Masih ada birokrasi yang berbelit, biasanya dalam pemberian pelayanan ke PJS yang begitu memerlukan waktu,” katanya.
Selain birokrasi, Dalem Pemayun juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital bagi pegawai administrasi. Di tengah tuntutan pelayanan yang serba cepat, kemampuan mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan.
Penelitian tersebut juga mencatat latar belakang staf yang tidak seluruhnya beragama Hindu sebagai salah satu temuan dalam melihat proses pemahaman dan implementasi nilai Sewaka Dharma di lingkungan Biddokkes Polda Bali.
Temuan ini tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan agama, tetapi menjadi bagian dari kajian mengenai bagaimana sebuah nilai budaya dipahami dan diterapkan oleh individu dengan latar belakang yang beragam dalam lingkungan pelayanan publik.
Sewaka Dharma Tak Cukup Jadi Jargon
Bagi Dalem Pemayun, Sewaka Dharma tidak cukup hanya ditempatkan sebagai jargon atau nilai budaya. Nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan dan sistem pelayanan yang konkret.
Ia merumuskan implementasinya melalui kebijakan dan perencanaan yang baik, koordinasi secara periodik, tindakan pelayanan yang mengedepankan empati, serta evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, nilai kearifan lokal masyarakat Bali dapat berjalan beriringan dengan prinsip manajemen modern.
Dalam penelitian, proses manajemen pelayanan Biddokkes Polda Bali dianalisis melalui empat fungsi manajemen, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling.
“Proses implementasi layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali selain berbasis Sewaka Dharma, juga berbasis empat prinsip manajemen modern, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling,” terangnya.
Berdampak pada Pasien hingga Manajemen
Belum optimalnya implementasi Sewaka Dharma juga ditemukan memiliki implikasi yang lebih luas.
Dari sisi pasien dan keluarga, pelayanan yang belum maksimal dapat memunculkan kekecewaan dan memengaruhi keyakinan terhadap profesionalisme pelayanan kesehatan yang diterima.
Dari sisi sosial dan budaya, penerapan nilai Sewaka Dharma yang belum optimal dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap sistem pelayanan yang berlangsung di Biddokkes Polda Bali.
Sementara dari sisi manajemen, pelayanan yang responsif, harmonis, dan dilakukan dengan hati dinilai penting untuk mencegah terjadinya perlambatan dalam penanganan pasien, baik untuk mendukung kebutuhan operasional kepolisian maupun pelayanan kepada masyarakat umum.
Karena itu, optimalisasi Sewaka Dharma menurut penelitian tersebut membutuhkan pembenahan secara menyeluruh, bukan hanya pada petugas yang berada di garis depan pelayanan.
Penguatan kualitas dan kuantitas SDM, peningkatan komunikasi dan sosialisasi, pemenuhan sarana-prasarana, peningkatan literasi digital, penyederhanaan birokrasi, serta penguatan koordinasi menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting.
Temuan Akademik
Dalam penelitian tersebut, Dalem Pemayun menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan agama dan budaya serta paradigma interpretatif.
Tiga landasan teori digunakan, yakni teori fenomenologi, teori manajemen, dan teori resepsi.
Teori fenomenologi digunakan untuk melihat pengalaman dan tindakan sosial para petugas dalam memberikan pelayanan. Sementara teori manajemen digunakan untuk mengintegrasikan nilai Sewaka Dharma ke dalam praktik manajerial. Adapun teori resepsi digunakan untuk melihat respons penerima pelayanan terhadap layanan yang diberikan.
Penelitian tersebut kemudian mengafirmasi teori fenomenologi Alfred Schutz, teori manajemen melalui empat fungsi manajemen, serta teori resepsi dalam melihat hubungan antara teks, nilai, dan respons yang terbentuk dalam praktik pelayanan.
Dikukuhkan sebagai Doktor ke-220 UNHI
Ujian promosi doktor tersebut dipimpin Rektor UNHI sekaligus Ketua Tim Penguji, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si.
Turut hadir dalam jajaran penguji antara lain Dekan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., serta Koordinator Program Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si.
Dalem Pemayun didampingi Promotor Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., dan Ko-Promotor Dr. Drs. I Made Sumarya, M.Si.
Anggota penguji lainnya yakni Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS., Prof. Dr. Drs. Wayan Paramartha, SH., M.Pd., serta penguji eksternal Prof. Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM.
Setelah berhasil mempertahankan disertasinya, Dalem Pemayun resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan dengan predikat cumlaude.
Ia sekaligus menjadi doktor ke-220 UNHI, dengan penelitian yang membawa persoalan pelayanan kesehatan dan penerapan nilai Sewaka Dharma ke dalam kajian akademik.
Bagi Dalem Pemayun, capaian akademik tersebut bukan hanya soal gelar, tetapi juga menghasilkan temuan yang dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendorong pelayanan kesehatan yang lebih cepat, responsif, empatik, dan selaras dengan nilai budaya yang menjadi landasannya. (rka)
