Desak Hidayanti Damuri, salah satu Agen BRILink di Kabupaten Klungkung. (dok: realitasbali)
REALITASBALI | Klungkung – Warung sembako milik Desi Hidayanti Damuri di Kabupaten Klungkung tak lagi sekadar menjadi tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, warung tersebut berkembang menjadi pusat layanan transaksi keuangan yang melayani hingga 150 transaksi setiap harinya melalui program Agen BRILink.
Perempuan berusia 28 tahun itu mulai menjalankan layanan BRILink sekitar 14 tahun lalu setelah mendapat informasi dari kenalannya yang lebih dulu menjadi agen. Saat itu, layanan transfer perbankan masih belum banyak dimanfaatkan masyarakat, khususnya di lingkungan tempat tinggalnya yang didominasi pekerja pendatang.
“Dulu orang-orang masih banyak yang bingung transfer. Kalau kirim uang ya harus ke bank atau ATM. Karena di sini banyak pekerja pendatang, akhirnya mereka mulai cari tempat transfer yang lebih dekat,” ujar Desi.
Dengan modal awal sekitar Rp10 juta, Desi memberanikan diri membuka layanan BRILink di warungnya. Namun pada masa awal operasional, jumlah transaksi masih sangat terbatas.
“Awalnya paling cuma tiga sampai empat orang transaksi. Fee-nya sedikit, tapi saya lihat ada peluang. Akhirnya saya berani tambah modal lagi,” katanya.
Seiring waktu, kebutuhan layanan keuangan masyarakat terus meningkat. Kawasan tempat tinggal Desi yang banyak dihuni pekerja dari luar Bali membuat layanan transfer uang menjadi kebutuhan rutin, terutama untuk mengirim uang ke keluarga di kampung halaman.
Tarik Tunai Jadi Transaksi Terbanyak
Jika pada awalnya layanan transfer menjadi transaksi yang paling banyak dicari, kini kondisi tersebut berubah. Menurut Desi, layanan tarik tunai justru menjadi transaksi yang paling dominan.
Banyak pekerja pelabuhan dan buruh angkut barang memanfaatkan layanan tersebut untuk mengambil uang tunai dalam jumlah besar sebagai bagian dari aktivitas pembayaran upah harian.
“Kalau sekarang malah banyak yang tarik tunai. Ada yang sehari narik Rp10 juta sampai Rp15 juta berkali-kali,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, jumlah transaksi yang dilayani mencapai antara 100 hingga 150 transaksi per hari. Selain transfer dan tarik tunai, pelanggan juga memanfaatkan layanan top up dompet digital, pembelian pulsa, hingga pembayaran tagihan listrik.
Keberadaan layanan BRILink juga berdampak langsung pada usaha warung sembako yang dikelolanya. Pelanggan yang datang untuk bertransaksi biasanya sekaligus membeli berbagai kebutuhan rumah tangga.
“Dulu warung sepi sekali. Barang juga sedikit. Sekarang orang datang transfer sekalian beli beras, mie, kebutuhan lain. Sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Pendapatan dari jasa transaksi BRILink pun secara rutin disisihkan untuk tabungan dan investasi keluarga. Hasil usaha tersebut turut membantu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
Pernah Alami Kerugian Jutaan Rupiah
Meski kini usahanya berkembang, perjalanan Desi sebagai Agen BRILink tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal operasional, ia pernah mengalami kerugian hingga Rp5 juta akibat kesalahan saat menangani transaksi yang gagal.
“Dulu pernah transfer Rp5 juta tapi struk nggak keluar. Saya ulang lagi karena belum ngerti sistemnya. Ternyata saldo kepotong dua kali. Setelah diurus ke Bank, alhamdullilah saldo bisa kembali,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih memahami sistem transaksi digital dan lebih berhati-hati saat menghadapi gangguan jaringan maupun transaksi yang tertunda.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya mengatakan Agen BRILink hadir sebagai perpanjangan tangan BRI dalam memperluas akses layanan perbankan hingga ke berbagai wilayah, termasuk kawasan yang jauh dari kantor layanan bank.
Menurutnya, keberadaan Agen BRILink tidak hanya mempermudah masyarakat memperoleh layanan keuangan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi pelaku usaha kecil.
“Dengan menjadi Agen BRILink, masyarakat tetap bisa menjalankan usaha utamanya sambil memperoleh tambahan penghasilan dari layanan perbankan,” ujarnya.
Hery menambahkan, keterbatasan akses layanan perbankan di sejumlah wilayah dapat diatasi melalui jaringan Agen BRILink yang kini tersebar hingga ke lingkungan permukiman dan kawasan padat pekerja.
Saat ini tercatat sebanyak 4.182 Agen BRILink aktif tersebar di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu ujung tombak layanan keuangan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat lingkungan.
