Kegiatan street art di gelaran NgabubuART #3, yang dilaksanakan pada 14 Maret 2026 dengan pameran yang berlangsung hingga 21 Maret 2026. (dok: istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Ruang kreatif alternatif kembali muncul di Denpasar lewat NgabubuART #3, sebuah pameran mini yang menggabungkan street art dan seni rupa dalam satu format kolektif. Kegiatan ini digagas Paw Workshop Studio sebagai upaya memperkuat ekosistem seni lokal sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas gaya dan latar belakang.
Mengambil momentum Ramadan, konsep “ngabuburit” diadaptasi menjadi ruang produktif bagi anak muda. Bukan sekadar menunggu waktu berbuka, aktivitas ini diarahkan menjadi ajang berkarya, berdiskusi, dan membangun jejaring kreatif.
Founder Paw Workshop Studio, Fandi Putra Tama atau Phan Paw, menegaskan bahwa NgabubuART tidak sekadar pameran, tetapi membawa misi yang lebih luas.
“Pesan utamanya adalah kolektivitas dan regenerasi. Kami ingin menunjukkan bahwa street art bukan sekadar corat-coret tanpa arah, melainkan sebuah gerakan seni yang punya disiplin tinggi dan mampu meningkatkan kualitas SDM para pelakunya melalui pameran serta kompetisi yang sehat,” papar Phan Paw.
Dorong Kolaborasi dan Kualitas
Tahun ini, NgabubuART menghadirkan pendekatan berbeda dengan fokus pada pemerataan kualitas karya. Salah satunya melalui format Graffiti Battle yang dirancang untuk mengasah kemampuan teknis para seniman.
“Selain itu, keterlibatan akademisi dan praktisi seni lebih intens tahun ini agar terjadi dialog antara teori seni dan praktik di jalanan,” kata Paw.
Tidak hanya menampilkan mural dan graffiti, pameran ini juga menghadirkan karya dalam berbagai medium. Mulai dari panel, sketsa, hingga karya digital yang dipresentasikan dalam format lebih formal.
Di luar pameran, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi manajemen seni, jamming, hingga sketching bersama. Aktivitas tersebut memperkuat fungsi acara sebagai ruang belajar sekaligus ruang temu komunitas.
NgabubuART #3 digelar pada 14 Maret 2026 dengan pameran yang berlangsung hingga 21 Maret 2026. Sekitar 20 seniman terlibat, mulai dari nama lama hingga talenta baru dari Denpasar dan sekitarnya. Total karya yang dipamerkan mencapai 20 karya, ditambah satu mural kolaboratif berukuran besar hasil jamming bersama.
Ruang Inklusif di Momentum Ramadan
Meski mengangkat momentum Ramadan, kegiatan ini tidak dibatasi oleh latar belakang agama. Justru, NgabubuART menjadi contoh bagaimana ruang kreatif bisa menjadi titik temu lintas identitas.
“Teman-teman non-muslim sangat antusias mendukung, karena bagi kami Ramadan adalah momen penuh toleransi. Seni adalah bahasa universal yang menyatukan kami tanpa memandang latar belakang keyakinan,” ujarnya.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana nilai budaya lokal seperti kebersamaan dan menyama braya tetap relevan dalam konteks urban dan kreatif.
Ke depan, Paw Workshop Studio berharap NgabubuART tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Tetapi juga berkembang menjadi standar baru dalam pergerakan street art di Bali.
“Kami ingin setelah acara ini, kesadaran para seniman akan pentingnya mengelola karya secara profesional meningkat, sehingga ekosistem kreatif di Denpasar semakin sehat dan diakui secara luas,” pungkas dia.
