Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-4 Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, Minggu (22/2/2026). (dok.istimewa)
REALITASBALI | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pemerintah memiliki kewajiban memberi perhatian dan memfasilitasi kebutuhan para sulinggih sebagai penjaga keseimbangan spiritual di Bali. Peran mereka dinilai sangat penting dalam menjaga kedamaian serta keselamatan Bali secara niskala.
Pernyataan itu disampaikan Koster saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-4 Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, Minggu (22/2/2026).
Menurut Koster, Bali memiliki karakter berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Pulau dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa ini bertumpu pada budaya yang menjadi cara hidup masyarakat sehari-hari.
Budaya tersebut tercermin dalam praktik adat dan ritual keagamaan yang dijalankan masyarakat Bali. Mulai dari upacara sederhana seperti saiban dan canang, hingga upacara besar seperti Eka Dasa Rudra yang diwariskan secara turun-temurun.
Kebiasaan spiritual yang dijalankan masyarakat Bali setiap hari itu juga menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata.
Daya Tarik Kuat Bagi Wisatawan
“Bali dibedakan oleh kebudayaan yang dimiliki, dilestarikan dan dijaga hingga saat ini. Jangan sampai kita kehilangan jati diri dan kebiasaan hidup lantaran mengimpor budaya asing, dan mematikan budaya lokal itu sendiri. Karena kekuatan itu letaknya ada pada kebudayaan, adat dan istiadat tersebut,” tegasnya.
Koster menambahkan, pertumbuhan ekonomi Bali juga sangat bergantung pada kekuatan budaya. Karena itu, adat istiadat dan tradisi yang hidup di masyarakat harus dijaga secara terarah. Agar nantinya mampu menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar.
Melalui visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, ia mengajak seluruh krama Bali menjaga keseimbangan kehidupan. Baik secara sekala dan niskala. Hal tersebut dilakukan dengan terus memperkuat dan menyosialisasikan nilai-nilai adat, etika, moral, serta budaya yang menjunjung tinggi sopan santun dan toleransi.
“Agar tidak kehilangan jati diri dan magnet yang dimiliki selama ini. Berhubung Bali tidak memiliki sumber daya alam. Kecuali budaya, maka Bali harus hidup dan terus berkembang dengan budaya yang dimilikinya. Oleh sebab itu Nangun Sat Kerthi Loka Bali dijalankan baik secara sekala dan niskala,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Koster juga menegaskan bahwa tatanan niskala harus tetap dijaga oleh para sulinggih. Pemerintah sebagai guru wisesa memiliki kewajiban memberikan perlindungan dan perhatian kepada mereka agar dapat menjalankan swadarma sesuai dresta Bali.
Sulinggih Tetap Konsisten Jaga Nilai Budaya
Ia berharap para sulinggih tetap konsisten menjaga nilai-nilai tradisi Bali agar budaya dan adat istiadat tidak mengalami kemunduran di tengah perkembangan zaman.
“Untuk terus menjaga Bali dengan budaya, adat dan istiadatnya, saya harapkan para sulinggih terus menegakkan betul dresta Bali. Dan jangan sampai meluntur. Agar saat melaksanakan pembenahan menuju hal yang lebih baik di bidang kebudayaan, adat dan istiadat kita tidak mengulang dari awal,” jelasnya.
Sementara itu, Manggala Uttama SKHDN Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, menyatakan para sulinggih di Bali akan tetap menjalankan tugas menjaga keseimbangan Bali secara niskala.
Menurutnya, keseimbangan antara sekala dan niskala akan membawa masyarakat pada kedamaian. Kedamaian dalam berpikir, berkata, dan berbuat, sekaligus mendukung berbagai program pembangunan pemerintah di Bali.
