Pasar Takjil Kampung Sunda. (dok.Rahma)
REALITASBALI | Denpasar – Memasuki bulan Ramadhan, geliat ekonomi warga mulai terasa. Di sejumlah sudut Kota Denpasar, pasar takjil bermunculan. Salah satunya Pasar Takjil Kampung Sunda yang berlokasi di Gang Marlboro, Denpasar Barat.
Pasar ini menjadi ruang temu warga untuk berburu menu berbuka puasa, sekaligus wadah UMKM memperkenalkan kuliner khas Jawa Barat. Beragam makanan ditawarkan, mulai dari bakso aci, cireng, cilok, asinan, hingga lauk pauk. Takjil pun tersedia lengkap, seperti kolak, canggil, es daluman, cincau, stik mie, es doger, dan es campur.
Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua. Jika tahun lalu digelar di luar area, kini panitia memusatkan kegiatan di dalam lahan kosong agar lebih tertata dan tidak memicu kemacetan.
Panitia Pasar Takjil Kampung Sunda, Bagus Panjalu (33) mengatakan, animo masyarakat meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Untuk pasar takjil Kampung Sunda ini udah berjalan yang kedua kalinya, ini tahun keduanya. Yang pertama kan di luar tahun kedua disini di dalam Alhamdulillah dari hari pertama sampai hari ini sebenarnya bukannya jam 4 sore tapi jam 3 sore itu udah diserbu udah rame sekali pokoknya,” ujarnya.
Ia menyebut, jumlah tenant juga bertambah. Tahun lalu hanya sekitar 20 stand, sedangkan tahun ini hampir 35 stand, termasuk tiga stand di luar area utama.
“Jadi biar lebih terkonsep, tertata dengan rapi, kalau di luar kan memacetkan juga jalanan,” katanya.
Untuk pengaturan parkir, panitia menempatkan kendaraan di luar area utama. Motor diarahkan parkir di sisi luar dekat musala, sementara mobil di lahan depan.
Omzet Meningkat

Dari sisi ekonomi, panitia mencatat perputaran uang lebih besar dibanding tahun lalu.
“Untuk omsetnya rata-rata lebih bagus tahun ini. Karena pengunjungnya lebih banyak dan juga varian makanannya juga lebih banyak. Banyak pilihan. Omsetnya bisa dibilang dua kali lipat,” kata Bagus.
Tahun lalu, omzet per stand disebut mencapai lebih dari Rp2 juta per hari.
Kepala Pelaksana Pasar Takjil Kampung Sunda, Asep Abdullah (33), membenarkan adanya peningkatan jumlah peserta.
“Ini kita rapikan lagi perihal dari tenan dan jumlah dari peserta. Mungkin kalau tahun lalu peserta itu berjumlah 20 untuk sekarang berjumlah 35,” ujarnya.
Menurutnya, sekitar 70 persen menu yang dijual merupakan makanan khas Sunda, sementara sisanya menu campuran.
Perizinan dan Keamanan
Panitia mengklaim telah mengantongi izin dari desa adat dan aparat setempat. Bahkan, Kapolsek Denpasar Barat sempat meninjau langsung lokasi.
Terkait keamanan pangan, panitia memastikan seluruh pedagang menggunakan bahan segar tanpa pengawet berbahaya.
“Kalau di sini insya Allah untuk bahan makanannya kita semuanya tidak menggunakan yang bahan mawek, boraks ataupun apapun, karena makanannya dari fresh bahan-bahan yang hari ini memang harus langsung habis, gak bisa dijual besok, kebanyakan begitu,” tegas Bagus.
Obat Rindu Perantau
Pasar Takjil Kampung Sunda juga menjadi pelepas rindu bagi warga perantauan. Lucky (24), pengunjung asal Jakarta, mengaku sengaja mencari menu khas yang jarang ditemui di Bali.
“Tutut, lauk pauk, terus ada takjil juga, ada gorengan, ada lontong. Lontong saya nyari, karena di Bali belum ada lontong kayak Jakarta, lontong isi oncom,” katanya.
Ia mengaku rindu cita rasa kampung halaman setelah dua tahun tinggal di Bali.
Panitia berharap pasar takjil ini tidak berhenti sebagai agenda musiman. Ke depan, mereka membuka peluang untuk menggelar kegiatan serupa seperti car free day atau weekend market agar UMKM tetap bergerak setelah Ramadhan usai.
